Pembelajaran menurut Gagne adalah seperangkat proses
yang bersifat internal bagi setiap individu sebagai hasil transformasi
rangsangan yang berasal dari persitiwa eksternal di lingkungan individu yang
bersangkutan (kondisi). Agar kondisi eksternal itu lebih bermakna
sebaiknya diorganisasikan dalam urutan persitiwa pembelajaran (metode atau
perlakuan). Selain itu, dalam usaha mengatur kondisi eksternal diperlukan
berbagai rangsangan yang dapat diterima oleh panca indra, yang dikenal dengan
nama media dan sumber belajar.
Pembelajaran menurut Gagne hendaknya mampu menimbulkan
persitiwa belajar dan proses kognitif. Peristiwa belajar (instructional
events) adalah peristiwa dengan urutan sebagai berikut : menimbulkan
minat dan memusatkan perhatian agar peserta didik siap menerima pelajaran,
menyampaikan tujuan pembelajaran agar peserta didik tahu apa yang diharapkan
dalam pembelajaran itu, mengingat kembali konsep/prinsip yang telah dipelajari
sebelumnya yang merupakan prasyarat, menyampaikan materi pembelajaran, memberikan
bimbingan atau pedoman untuk belajar, membangkitkan timbulnya unjuk kerja
peserta didik, memberikan umpan balik tentang kebenaran pelaksanaan tugas,
mengukur/evaluasi belajar, dan memperkuat referensi dan transfer belajar.
Suciati dan Irawan menjelaskan sembilan peristiwa
pembelajaran Gagne dalam bentuk bagan sebagai berikut :
|
No
|
Peristiwa Pembelajaran
|
Penjelasan
|
|
1
|
Menimbulkan minat dan
memusatkan perhatian
|
Peserta didik tidak
selalu siap dan fokus pada awal pembelajaran. Guru perlu menimbulkan
minat dan perhatian anak didik melalui penyampaian sesuatu yang baru, aneh,
kontradiktif atau kompleks
|
|
2
|
Menyampaikan tujuan
pembelajaran
|
Hal ini dilakukan agar
peserta didik tidak menebak-nebak apa yang diharapkan dari dirinya oleh
guru. Mereka perlu mengetahui unjuk kerja apa yang akan digunakan
sebagai indikator penguasaan pengetahuan atau keterampilan
|
|
3
|
Mengingat kembali
konsep/prinsip yang telah dipelajari yang merupakan prasyarat
|
Banyak pengetahuan baru
yang merupakan kombinasi dari konsep, prinsip atau informasi yang sebelumnya
telah dipelajari, untuk memudahkan mempelajari materi baru
|
|
4
|
Menyampaikan materi
pembelajaran
|
Dalam menjelaskan materi
pembelajaran, menggunakan contoh, penekanan untuk menunjukkan perbedaan atau
bagian penting, baik secara verbal maupun menggunakanfitur tertentu (warna,
huruf miring, garisbawahi, dsb)
|
|
5
|
Memberikan bimbingan atau
pedoman untuk belajar
|
Biimbingan diberikan
melalui pertanyaan-pertanyaan yang membiimbing proses/alur pikir peserta
didik. Perlu diperhatikan agar bimbingan tidak diberikan secara
berlebihan
|
|
6
|
Memperoleh unjuk kerja
peserta didik
|
Peserta didik diminta
untuk menunjukkan apa yang telah dipelajari, baik untuk myakinkan guru maupun
dirinya sendiri
|
|
7
|
Memberikan umpan balik tentang kebenaran pelaksanaan
tugas
|
Umpan balik perlu
diberikan untuk membantu peserta didik mengetahu sejauh mana kebenaran atau
unjuk ekrja yang dihasilkan
|
|
8
|
Mengukur/mengevaluasi
hasil belajar
|
Pengukuran hasil belajar
dapat dilakukan melalui tes maupun tugas. Perlu diperhatikan validitas
dan reliabilitas tes yang diberikan dari hasil observasi guru
|
|
9
|
Memperkuat referensi dan
transfer belajar
|
Referensi dapat
ditingkatkan melalui latihan berkali-kali menggunakan prinsip yang dipelajari
dalam konteks yang berbeda. Mondisi/situasi pada saat transfer belajar
diharapkan terjadi, harus berbeda. Memecahkan masalah dalam suasana di
kelas akan sangat berbeda dengan susasana riil yang mengandung resiko
|
Menurut Gagne, belajar memberi kontribusi terhadap
adaptasi yang diperlukan untuk mengembangkan proses yang logis, sehingga
perkembangan perilaku (behaviour) adalah hasil dari efek belajar
yang kumulatif serta tidak dapat didefinisikan dengan mudah karena belajar
bersifat kompleks.
2. Kemampuan
Belajar menurut Robert M. Gagne
Gagne mengkajji masalah belajar yang kompleks dan
menyimpulkan bahwa informasi dasar atau keterampilan sederhana yang dipelajari
mempengaruhi terjadinya belajar yang lebih rumit. Menurut Gagne ada lima
kategori kemampuan belajar, yaitu :
a.
keterampilan intelektual atau kemampuan seseorang
untuk berinteraksi dengan lingkungannya masing-masing dengan penggunaan
lambang. Kemampuan ini meliputi:
1) asosiasi dan mata rantai
(menghubungkan suatu lambang dengan suatu fakta)
2) diskriminasi (membedakan suatu
lambang dengan lambang lain)
3) konsep (mendefinisikan
suatu pengertian atau prosedur)
4) kaidah (mengkombinasikan
beberapa konsep dengan suatu cara)
5) kaidah lebih tinggi
(menggunakan beberapa kaidah dalam memecahkan suatu masalah)
b.
strategi/siasat kognitif yaitu keterampilan peserta
didik untuk mengatur proses internal perhatian, belajar, ingatan dan pikiran
c.
informasi verbal, yaitu kemampuan untuk mengenal dan
menyimpan nama atau istilah, fakta, dan serangkaian fakta yang merupakan
kumpulan pengetahuan
d.
keterampilan motorik, yaitu keterampilan
mengorganisasikan gerakan sehingga terbentuk keutuhan gerakan yang mulus,
teratur, dan tepat waktu
e.
sikap, yaitu keadaan dalam diri peserta didik yang
mempengaruhi (bertindak sebagai moderator atas pilihan untuk bertindak).
Sikap ini meliputi komponen afektif, kognitif dan psikomotorik.
Gagne juga menyatakan bahwa
untuk dapat memperoleh dan menguasai kelima kategori kemampuan belajar tersebut
di atas, ada sejumlah kondisi yang perlu diperhatikan oleh pendidik. Ada
kondisi belajar internal yang timbul dari memori peserta didik sebagai hasil belajar
sebelumnya, dan ada sejumlah kondisi eksternal ditinjau dari peserta
didik. Kondisi eksternal ini bila diatur dan dikelola dengan baik
merupakan usaha untuk membelajarkan, misalnya pemanfaatan atau penggunaan
berbagai media dan sumber belajar.
Berdasarkan kondisi internal dan eksternal tersebut,
Gagne menjelaskan bagaimana proses belajar itu terjadi. Model proses
belajar yang dikembangkan oleh Gagne didasarkan pada teori pemrosesan
informasi , yaitu sebagai berikut:
a.
Rangsangan yang diterima panca indera akan disalurkan
ke pusat syaraf dan dikenal sebagai informasi.
b.
Informasi dipilih secara selektif, ada yang dibuang,
ada yang disimpan dalam memori jangka pendek, dan ada yang disimpan dalam
memori jangka panjang.
c.
Memori-memori ini tercampur dengan memori yang telah
ada sebelumnya, dan dapat diungkap kembali setelah dilakukan pengolahan.
Didasarkan atas teori pemrosesan infromasi tersebut,
Gagne mengemukakan bahwa suatu tindakan belajar meliputi delapan
kejadian-kejadian eksternal yang dapat distrukturkan oleh siswa dan guru, dan
setiap fase ini dipasangkan dengan suatu proses internal yang terjadi dalam
pikiran siswa.
3. Tipe-tipe Belajar menurut Robert M.
Gagne
Gagne menyusun tipe-tipe belajar berdasarkan hasil
belajar yang diperoleh dan bukan proses belajar yang dilalui peserta didik
untuk mencapai hasil itu. Selain itu, Gagne mencoba menempatkan delapan
tipe belajar itu berada dalam suatu urutan hirakis, yaitu tipe belajar yang
satu menjadi dasar atau landasan tipe belajar berikutnya. Dengan
demikian, peserta didik yang tidak menguasai tipe belajar yang terdahulu,
akan mengalami kesulitan dalam mengusai tipe belajar selanjutnya.
Selanjutnya Gagne menambahkan bahwa empat tipe belajar pertama (nomor 1
s/d 4) kurang relevan untuk belajar di sekolah, sedangkan empat tipe kedua
(nomor 5 s/d 8) lebih menonjolkan pada belajar kognitif yang memang ditonjolkan
di sekolah. Untuk lebih jelasnya, kedelapan tipe belajar ini disajikan dalam
tabel berikut:
|
No
|
Tipe Belajar
|
Hasil Belajar
|
Contoh Prestasi
|
|
1
|
Belajar sinyal (signal
learning)
|
Memberikan
reaksi pada perangsang (S-R)
|
Guru
sejarah yang galak dikuti oleh siswa – Siswa tidak suka sejarah
|
|
2
|
Belajar stimulus
respon(stimulus response learning)
|
Memberikan
reaksipada perangsang (S-R)
|
Guru memuji
tindakan siswa – Siswa cenderung mengulang
|
|
3
|
Belajar merangkai tingkah
laku (behaviour chaining learning)
|
Menghubungkan
gerakan yang satu dengan yang lain
|
Membuka
pintu mobil – duduk – kotrol persneling – menghidupkan mesin – menekan
kopling – pesang persneling 1 – menginjak gas
|
|
4
|
Belajar asosiasi verbal (verbal
chaining learning)
|
Memberikan
reaksi verbal pada stimulus/perangsang
|
Nomor
teleponmu? (021) 617812
|
|
5
|
Belajar diskriminasi (discrimination
learning)
|
Memberikan
reaksi yang berbeda pada stimulus-stimulus yang mempunyai kesamaan
|
Menyebutkan
merek mobil-mobil yang lewat di jalan
|
|
6
|
Belajar konsep (concept
learning)
|
Menempatkan
obyek-obyek dalam kelompok tertentu
|
Manusia,
ikan paus, kera, anjing, adalah makhluk menyusui
|
|
7
|
Belajar kaidah (rule
learning)
|
Menghubungkan
beberapa konsep
|
Benda
bulat berguling pada alas yang miring
|
|
8
|
Belajar memecahkan
masalah (problem solving)
|
Mengembangkan
beberapa kaidah menjadi prinsip pemecahan masalah
|
Menemukan
cara memperoleh energi dari tenaga atom, tanpa mencemarkan lingkungan hidup
|
Dengan demikian, ada beberapa prinsip pembelajaran
dari teori gagne, yaitu antara lain berkaitan dengan:
a.
perhatian dan motivasi belajar peserta didik,
b.
keaktifan belajar dan keterlibatan langsung/pengalaman
dalam belajar,
c.
pengulangan belajar,
d.
tantangan semangat belajar,
e.
pemberian umpan balik dan penguatan belajar,
f.
adanya perbedaan individual dalam perilaku belajar.
Selain itu Gagne juga
mementingkan akan adanya penciptaan kondisi belajar, termasuk lingkungan
belajar, khususnya kondisi yang berbasis media, yaitu meliputi jenis penyajian
yang disampaikan kepada peserta didik dengan penjadwalan, pengurutan dan
pengorganisasian.
TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Segala
perbuatan manusia mengandung tujuan, tak terkecuali dalam dunia pendidikan.
Dalam sistem pendidikan secara nasional, tujuan umum pendidikan secara
eksplisit tertera dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Seluruh
aparatur pemerintah termasuk petugas-petugas pendidikan, harus terlebih dahulu
memahami makna dari rumusan tersebut dan menterjemahkannya dalam bentuk rumusan
tujuan yang sesuai dengan tingkat dan jenis pendidikan yang diselenggarakan
pada lembaga tersebut. Dari tujuan umum pendidikan ini kemudian dijabarkan ke
dalam tiga bentuk tujuan; yaitu tujuan institusional, tujuan kurikuler,dan tujuan
instruksional.
Tujuan
institusional merupakan tujuan yang dirumuskan dari masing-masing institusi
atau lembaga pendidikan, seperti tujuan Sekolah Dasar, tujuan Sekolah Menengah
Pertama, tujuan Madrasah Aliyah, dan lain sebagainya yang masing-masing
dicanangkan sesuai dengan harapan lulusannya. Sedangkan tujuan kurikuler
merupakan tujuan yang dirumuskan untuk masing-masing mata pelajaran. Misalnya
tujuan pelajaran Pendidikan Agama, Matematika, dan seterusnya. Masing-masing
mata pelajaran memiliki tujuan yang berbeda sesuai karakteristik mata pelajaran
tersebut serta tingkat institusi yang melaksanakannya.
Sementara
tujuan instruksional merupakan tujuan yang lahir akibat terjadinya proses
mempelajari setiap materi pelajaran yang dilakukan dalam situasi
belajar-mengajar. Tujuan instruksional selanjutnya dapat dibagi menjadi dua
macam, yaitu tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus.
Perbedaan antara kedua macam tujuan ini didasarkan atas luasnya tujuan yang
akan dicapai.
Merumuskan
tujuan instruksional sangatlah penting, bahkan ini dapat dipandang sebagai
sebuah kebutuhan dan hak peserta didik yang harus dilaksanakan oleh setiap
pendidik. Selain untuk menjelaskan arah belajar peserta didik, manfaat lain yang
bisa diperoleh dari membuat tujuan instruksional ini adalah:
·
guru memiliki arah untuk memilih bahan pelajaran dan
prosedur mengajar;
·
guru mengetahui batas-batas tugas dan
wewenangnya dalam mengajarkan suatu bahan;
·
guru memiliki patokan dalam mengadakan penilaian
kemajuan belajar peserta didik;
·
guru sebagai pelaksana dan pemegang kebijakan
pembelajaran mempunyai kriteria untuk mengevaluasi kualitas maupun efisiensi
pengajaran;
·
dan lain sebagainya.
Pengertian Tujuan Instruksional Umum
Kegiatan belajar-mengajar
atau kegiatan pengajaran sering juga disebut dengan istilah Instruksional. Dari
istilah “instruksional” ini kemudian muncul istilah “tujuan
instruksional”. Soemarsono dalam bukunya “Tujuan Instruksional”, – sebagaimana
yang dikutip oleh Suharsimi Arikunto – mendefenisikan tujuan
instruksional sebagai tujuan yang menggambarkan pengetahuan,
kemampuan, keterampilan dan sikap yang harus dimiliki oleh siswa sebagai
akibat dari hasil pengajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku (behavior)
yang dapat diamati dan diukur. Selanjutnya tujuan
instruksional ini dibagi menjadi dua macam, yaitu Tujuan Instruksional
Umum (TIU), dan Tujuan Instruksional Khusus (TIK).
Dalam bahasa
Inggris terdapat sejumlah istilah yang menyatakan tujuan yang bersifat
umum, seperti “aim”, “general purpose”, “goal”, dan
sebagainya. Sedangkan dalam Prosedur Pengembangann Sistem Instruksional (PPSI)
biasa disebut dengan Tujuan Instruksional Umum atau disingkat TIU. Adapun
yang dimaksud dengan Tujuan Instruksional Umum adalah suatu
kegiatan mengidentifikasi kebutuhan instruksional untuk memperoleh jenis
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang tidak pernah dipelajari atau belum
dilakukan dengan baik oleh peserta didik, (yang mana) jenis pengetahuan,
keterampilan dan sikap tersebut masih bersifat umum atau garis
besar. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa Tujuan Instruksional Umum
hanya menggariskan hasil-hasil yang bersifat umum pada kegiatan belajar dari
setiap mata pelajaran yang harus dicapai oleh setiap peserta didik.
Jika kita berbicara tentang tujuan umum, biasanya sering terjebak ke dalam
kalimat indah dan muluk kedengarannya, tetapi akan menemui kesukaran bila
hendak diwujudkan karena menimbulkan tafsiran yang aneka ragam menurut
pandangan masing-masing. Misalnya tujuan: “menjadi manusia yang baik”, “yang
bertanggungjawab”, “bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa”, “yang mengabdi kepada
masyarakat”, dan sebagainya. Tujuan yang umum seperti itu sangat kabur dan
tidak bisa diukur tingkat keberhasilannya, bahkan berpotensi melahirkan
macam-macam tafsiran. Kita tidak tahu dengan jelas apa yang dimaksud dengan
“baik”, “bertanggungjawab” atau “mengabdi kepada masyarakat”. Oleh sebab itu
TIU harus dianalisis sebagai bersifat umum, dan karena itu tidak memberi
pegangan yang mantap untuk menentukan bahan, strategi penyajian, maupun
penilaian. Untuk itu, Tujuan Instruksional Umum harus dijabarkan secara
khusus ke dalam Tujuan Instruksional Khusus.
Sumber :
permasalahan :
Dari kelima kategori kemampuan belajar menurut gagne,
salah satunya yaitu sikap. Dalam hal ini dijelaskan bahwa sikap adalah keadaan
dalam diri peserta didik yang mempengaruhi (bertindak sebagai moderator atas
pilihan untuk bertindak).
Pertanyaan : Bagaimanakah cara kita membelajarkan
siswa yang memiliki sikap tak acuh dan tidak mempunyai motivasi dalam belajar
yang disebabkan oleh masalah internal siswa tersebut ? apakah upaya yang harus
kita lakukan agar siswa tersebut termotivasi dalam belajar.
terkait dengan pembelajaran di kelas yaitu siswa yang memiliki sikap tak acuh dan tidak mempunyai motivasi dalam belajar yang disebabkan oleh masalah internal siswa tersebut, maka guru harus kreatif untuk menciptakan lingkungan belajar yang menantang rasa ingin tahu siswa, membangkitkan gairah siswa untuk belajar, sekaligus menyediakan pembelajaran yang membuat siswa merasa butuh untuk belajar.Jika guru mengajar hanya menyampaikan pelajaran (berceramah, misalnya), maka wajar jika siswa tidak tertarik dan tidak merasa membutuhkan ilmu yang diajarkan oleh guru. Akibatnya, siswa tidak mengikuti pembelajaran secara baik.
BalasHapusDalam menghadapi siswa yang memiliki minat belajar yang rendah contohnya ditunjukkan dengan sikapnya yang tidak acuh dan tidak termotivasi dalam belajar, kita sebagai pendidik/ahli pendidikan bisa menyiasatinya dengan menggunakan strategi2 pembelajaran tertentu yang sesuai dengan kondisi siswa contohnya menerapkan pembelajaran dengan model TGT (Teams Games Tournaments) sehingga anak bisa bersemangat dalam belajar karena pola pembelajarannya dalam bentuk belajar sambil bermain/turnamen atau model pembelajaran lainnya yang kira2 bisa membangkitkan motivasi siswa dalam belajar. Selain menggunakan strategi atau pendekatan yang tepat, kita juga bisa mengintegrasikan media-media pembelajaran yang menarik untuk menarik perhatian dan memotivasi anak, seperti penggunaan video pembelajaran, gambar, dan animasi yang dirancang sedemikian rupa sehingga materi/ilmu yang ingin kita sampaikan, tersampaikan dengan baik, namun tidak membosankan.Perlu dipertimbangkan juga jenis karakteristik pola belajar anak berdasarkan umurnya, misalnya anak dengan usia dini cenderung pola belajarnya suka jika sambil bermain dan bernyanyi, begitu pula untuk anak usia SMA cenderung belajar dengan pola pendekatan berbasis pada tren seperti tren teknologi ssosial media, bisa kita manfaatkan sebagai sarana belajar.
BalasHapusMenurut saya, agar dapat menumbuhkan motivasi dalama belajar, guru harus bisa membuat pemebelajaran itu menarik, dengan bwgitu guru dituntut harus kreatif dan mampu berinovasi. Guru menggunakan media pemebelajaran yang sesuai dengan materi. Guru juga dapat melakukan inovasi di metode dalam mengajar, sehingga dapat menumbuhkan motivasi dalam diri siswa.
BalasHapussikap acuh tak acuh dan tidak termotivasi belaajr pada anak biasanya mempunyai faktor tersediri. misalnya anak menjadi acuh dan tidak termoticasi dikarenakan anak yang tidak menyukai dan tidak dapat memahami pelajaran. atau anak menjadi acuh dan tidak termotivasi di karekan kita sebagai guru/pendidikan yang kurang pandai dalam menyampaikan materi. dan masalah tersebut sebeanrnya bisa di atasi. kita sebagai guru/pendidik harus memiliki skill dalam mengelola kelas. kita harus terlebih dulu memahami faktor penyebab anak bersikap acuh dan tidak termotivasi. jika penyebabnya seperti yang telah di sebutkan,artinya guru harus bisa menciptakan suasana belajar yang dapat menarik perhatian bukan pembelajaran monoton yang dapat membuat siswa bosan. seperti dalam di lakukan diskusi, penanyangan video-video terkait pembelajaran,atau praktikum pada materi-materi tertentu
BalasHapusCara kita membelajarkan siswa yang memiliki sikap tak acuh dan tidak mempunyai motivasi dalam belajar yang disebabkan oleh masalah internal siswa tersebut adalah dengan menciptakan suasana belajar yang nyaman, kondusif. buat siswa tersebut termotivasi dengan apa yang kita ajarkan sehingga menimbulkan rasa ingin tahu siswa tersebut. Selain itu untuk siswa yang sangat sulit dalam belajar kita bisa melakukan bimbingan belajar kepada siswa tersebut.
BalasHapusLangkah awal yang dapat dilakukan untuk menghadapi siswa yang acuh dan tidak mempunyai motivasi untuk belajar salah satu cara nya adalah berhenti menjelaskan pelajaran terlebih dahulu dan memberikan sesuatu yang menantang dan siswa merasa tertarik untuk mengikuti pelajaran hingga pada akhirnya siswa yang cuek tadi menunjukkan perhatiannya. Sering terjadi, ketika sedang mengajar, guru kurang memperhatikan bagaimana keseluruhan siswa di kelas, apakah mereka semua benar-benar memperhatikan guru yang sedang mengajar.Selain itu guru juga harus menciptakan lsuasana belajar yang kondusif dan memiliki pengetahuan bagaimana merancang pembelajaran supaya dapat menarik perhatian siswa dan siswa merasa tertantang dan semangat untuk mengikuti pelajaran.
BalasHapusMenurut saya, sebaiknya kita memastikan anak tersebut mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Kita bisa melibatkan siswa-siswa yang demikian dalam pembelajaran dan mengajarkan dengan sedikit intensif. Misalnya jika ada siswa yang demikian, guru bisa melibatkan siswa tersebut, guru bisa memintanya untuk mengerjakan soal ke depan. Jika ternyata dia bisa mengerjakannya berarti tidak perlu kita khawatir tentang masalah internalnya. Jika ternyata dia kesulitan, kita bisa bantu mengarahkan agar siswa bisa mengerjakan soal tersebut. Jika kondisinya seperti ini, kita bisa memintanya bercerita setelah jam pelajaran selesai dan memberikan masukan kepadanya. Kita bisa juga menyarankannya untuk sharing dengan guru BP/BK.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusBanyak faktor yang menjadikan siswa bersikap tak acuh dan tidak mempunyai motivasi dalam belajar, salah satu contohnya adalah adanya masalah internal siswa tersebut sehingga menjadikannya tidak tertarik pada guru yang akan mengakibatkan tidak tertariknya ia pada mata pelajaran yang diajarkan. Untuk menghadapinya, guru perlu mengetahui keadaan siswa tersebut dengan bertanya apa yang terjadi padanya. Setelah itu, guru dapat melakukan bimbingan kepada siswa tersebut, lebih baik lagi jika dilakukan bersama dengan orangtuanya. Apabila sudah berangsur membaik, hal selanjutnya yang dapat dilakukan adalah mulai menumbuhkan kembali motivasi belajarnya. Upaya yang dapat dilakukan misalnya mengenalkan siswa pada kemampuan yang ada pada dirinya sendiri, membantu siswa merumuskan tujuan belajarnya, mengenalkan siswa dengan hal-hal baru, membuat variasi kegiatan belajar mengajar agar siswa tidak bosan, dan memberi pujian yang wajar di setiap keberhasilan siswa.
BalasHapusFaktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu. Faktor-faktor internal ini misalnya meliputi faktor fisiologis dan psikologis. Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu, misalnya seperti kesehatan jasmani siswa dan panca indranya. faktor internal kedua adalah psikologis siswa memengaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap, dan bakat. sikap acuh tak acuh dan motivasi yang kurang berkaitan dengan kondisi internal, yaitu psikologi siswa. maka yang dapat kita lakukan sebagai guru adalah meningkatkan motivasi belajar dan mencari penyebab siswa acuh tak acuh dalam belajar. maka disinilah peran guru yang bukan hanya sebagai pengajar namun juga pendidik.
BalasHapussaya sepakat dengan pendapat kak sintia diatas bahwasanya siswa yang memiliki sikap tak acuh dan tidak mempunyai motivasi dalam belajar yang disebabkan oleh masalah internal siswa tersebut, maka guru harus kreatif untuk menciptakan lingkungan belajar yang menantang rasa ingin tahu siswa, membangkitkan gairah siswa untuk belajar, sekaligus menyediakan pembelajaran yang membuat siswa merasa butuh untuk belajar.dan biasa juga guru harus berusaha untuk mendekatkan dirinya kepada siswa tersebut cari tau apa akar penyebab masalahnya, dan guru harus bisa menjadi teman bagi muridnya, dari situlah murid sudah merasa dekat dengan guru maka murid tersebut akan termotivasi untuk belajar.
BalasHapusUpaya yg harus dilakukan guru untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dg melakukan pendekatan pedagogis dan memahmi kondisi siswanya. Guru hrs mampu membuat pembelajaran yg menarik dan menyenangkan akan siswa termotivasi belajar. Ada ruang dimana siswa nyaman belajar dg guru nya.
BalasHapus