Jumat, 15 Desember 2017

MENGANALISIS SISWA DAN KONTEKS PEMBELAJARAN

1. Tujuan
  1. Mengetahui karakteristik umum dari populasi atau keseluruhan siswa itu penting dipertimbangkan untuk mengembangkan pembelajaran.
  2. Memahami karakteristik kontekstual pembelajarannya dengan tujuan keterampilan-keterampilanyang diharapkan dapat dilakukan.
  3. Memahami karakteristik kontekstual dari pengaturan pembelajaran.
  4. Untuk mencapai tujuan instruksional tertentu dan konteksnya, kemudian menjelaskan metode dan sumber untuk mendapatkan informasi tentang populasi target, pengaturan pembelajran, dan pengaturan instruksional.
  5. Menganalisis dan menggambarkan karakteristik umum dari target populasi.
  6. Menganalisis dan menggambarkan karakteristik kontekstual pembelajaran dan kinerja akhir serta pengaturan instruksiona.l
  7. Meninjau analis pembelajaran siswa dan memahami konteks informasi kemudian merevisi seperti yang telah kita laksanakan.
2. Latar Belakang
Bab sebelumnya difokuskan untuk melakukan identifikasi keterampilan dan pengetahuan yang telah diajarkan. Bentuk tujuan analsis penilaian kebutuhan adalah mengidentifikasi dan menentukan langkah-langkah spesifik untuk mencapai tujuan. Analisis tambahan yang telah digunakan untuk mengidentifikasi (1) keterampilan bawahan yang harus diberikan (2) keterampilan dasar bahwa pelajar harus termasuk di dalam kegiatan instruksi dan (2) keterampilan dasar bahwa peserta didik harus memiliki pengetahuan dasar untuk memulai instruksi.
Desainer tidak hanya harus menentukan apa yang akan diajarkan, tetapi juga memahami karakteristik peserta didik, konteks bagaimana tujuan pembelajaran, dan analisis konteks pada kemampuan siswa pada tahap akhirnya. Dalam hal ini desainer merinci dan menyusun atau membuat langkah yang tepat, mengenai apa yang akan diajarkan dan, terutama bagaimana cara mengajarkannya.
Pada suatu pendekatan mengemukakan belajar terus-menerus untuk merancang instruksi pembelajaran yang paling sesuai untuk peserta didik adalah hal penting. Namun, pengumpulan data membutuhkan biaya dan memakan waktu, dan kadang menghasilkan informasi yang sangat tidak berguna. Pendekatan lain juga mengasumsikan bahwa sebagai desainer kita cukup tahu tentang peserta didik, tanpa mengumpulkan informasi tentang mereka. Untuk beberapa desainer, ini mungkin pernyataan ini benar, tetapi untuk merancang populasi pelajar, asumsi tentang pembelajar mungkin tidak akurat dan menimbulkan masalah yang signifikan saat instruksi ini disampaikan.
Secara historis, psikologi pendidikan telah meneliti dan menyusun dari variabel perbedaan individu dan hubungan mereka dalam belajar. Studi kecerdasan dan kepribadian mengisi literatur yang ada. Membentuk perspektif desain instruksional, serta mengetahui variable makna yang signifikan untuk mempengaruhi pencapaian kelompok peserta didik yang memiliki karakteristik umum. Pada bab ini akan mengidentifikasi satu variabel dalam penelitian yang mempengaruhi cara belajar. Jika kita menggambarkan peserta didik dalam hal variabel-variabel ini, kita dapat memodifikasi strategi pembelajaran kita untuk meningkatkan pembelajaran.
Yang sama pentingnya pada saat ini, di dalam proses desain pembelajarn terdapat analisis konteks pembelajaran. Konteks di mana peserta didik akan menggunakan keterampilan yang baru diperoleh. Dalam beberapa kasus, seorang pelajar diajarkan keterampilan di kelas, menunjukkan penguasaan materi pada tes akhir, dan inilah yang menjadi tujuan akhir. Demikian juga, misalnya siswa dapat memiliki keterampilan matematika yang dipelajari tahun ini di kelas matematika tahun ke depan. Dalam situasi ini, konteks kemampuan belajar dan konteks pembelajaran pada kemampuan ini pada dasarnya sama.
Alasan lain untuk desainer untuk menganalisis peserta didik dan konteks adalah bahwa analisis ini tidak dapat dilakukan hanya dengan mengunjungi seseorang, misalnya guru. Desainer harus mengunjungi ruang kelas, fasilitas pelatihan, dan pelajar yang mengikuti pembelajaran. Hal ini menentukan melalui mengamati peserta didik akan meningkatkan pemahaman desainer. Hal tersebut berdasarkan dari apa yang diajarkan serta bagaimana akan digunakan.
Seperti tercantum dalam bab tiga, dan empat, langkah analisis instruksional dan analisis peserta didik dengan konteks sering dilakukan secara bersamaan, tetapi tidak berurutan sehingga informasi yang dikumpulkan dari masing-masing informasi tersebut berbeda dan menginformasikan hal yang lain.
3. Konsep
3.1 Analisis Pembelajar/ Analisis Siswa
Analisis pembelajar atau analisis karakteristik siswa merupakan kegiatan melakukan pengamatan, namun sebelumnya dapat mempertimbangkan siapa pembelajar untuk tepat instruksi tertentu. Kita akan merujuk pada peserta didik yang merupakan target populasi.
Kadang-kadang target populasi juga disebut sebagai tujuan sasaran atau kelompok sasaran. Hal ini disebut menggunakan deskriptor seperti usia, tingkat kelas, topik yang dipelajari, pengalaman kerja, atau posisi pekerjaan/ jabatan. Sebagai contoh, satu perlengkapan bahan mungkin ditujukan untuk suatu sistem program, kelas lima merupakan kelas tingkat membaca, kelompok menengah, atau tingkat sekolah tinggi. Contoh-contoh ini adalah jenis dari deskripsi yang biasanya tersedia untuk bahan pengajaran. Namun desainer instruksional harus memahami penjelasan umum dan lebih spesifik tentang keterampilan yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk siapa bahan yang ditujukan.
Hal ini penting untuk membuat perbedaan antara target populasi dan apa yang disebut sebagai uji coba terhadap peserta didik. Target populasi adalah representasi abstrak dari jangkauan terluas mungkin semua pengguna, seperti mahasiswa, siswa kelas desainer untuk instruksi yang akan dikembangkan. Hal ini diasumsikan bahwa uji coba peserta didik terhadap anggota target populasi.
Informasi apa yang perlu diketahui desainer tentang target populasi mereka? Informasi yang berguna yaitu (1) pengetahuan awal, (2) pengetahuan yang diperlukan suatu topik, (3) sikap terhadap materi pembelajaran dan cara penyampaian (4) motivasi akademik, (5) tingkat pendidikan dan kemampuan siswa, (6) pemilihan pembelajaran umum, (7) sikap terhadap kelompok dalam memberikan pembelajaran (8) karakteristik kelompok. Hal tersebut dirinci dengan masing-masing kategori.
1) Pengetahuan Awal
Sebelum memulai instruksi/pembelajaran, anggota populasi harus sudah menguasai keahlian tertentu (misalnya pengetahuan awal) yang terkait dengan tujuan pembelajaran. Sumber penelitian juga membahas karakteristik lain dari peserta didik, dikategorikan sebagai khusus atau umum yang mendasar, yang berhubungan dengan pengetahuan peserta didik, pengalaman, dan sikap. Ini juga mempengaruhi hasil dari pembelajaran siswa.
2) Pengetahuan Sebelumnya Tentang Suatu Topik
Pada dasarnya penting untuk menentukan apa yang sudah diketahui tentang topik yang akan diajarkan, terkadang siswa benar-benar tidak menyadari atau kurang memahami pengetahuan tentang subjek yang dipelajari. Selanjutnya, siswa hanya memahami sebagian atau kesalahpahaman tentang topik tersebut. Ketika kita mengajar, peserta didik dapat mencoba untuk menafsirkan apa mereka pahami dan yang mereka ketahui dari pembelajaran sebelumnya. Mereka membangun pengetahuan baru dengan didasari pemahaman mereka sebelumnya, karena itu, sangat penting bagi para desainer untuk menentukan jangkauan dan sifat dari pengetahuan siswa sebelumnya.
3) Sikap terhadap Isi Materi dan Cara Penyampaian
Siswa mungkin memiliki kesan atau sikap tentang topik yang akan diajarkan dan bahkan mungkin bagaimana pembelajaran akan disampaikan. Para desainer harus menentukan, dari sampel perlengkapan pembelajar, berbagai pengetahuan pengalaman sebelumnya, dan sikap terhadap isi materi yang tercakup dalam instruksi/ pembelajaran. Desainer juga harus menentukan harapan pembelajar tentang bagaimana instruksi/pembelajaran yang akan disampaikan.
4) Motivasi Akademik
Banyak pengajar mempertimbangkan tingkat motivasi pembelajar sebagai faktor yang paling penting dalam pembelajaran yang sukses. Guru mengungkapkan bahwa ketika peserta didik memiliki sedikit motivasi atau ketertarikan terhadap topik, pembelajaran tidak akan berlansung baik. Keller (1987) mengembangkan model berbagai jenis motivasi yang diperlukan untuk belajar sukses, dan ia menyarankan bagaimana menggunakan informasi ini untuk merancang pengajaran yang efektif. Model Keller disebut model ARCS (perhatian, relevansi, kepercayaan diri, dan kepuasan). Model ini akan dibahas secara rinci dalam bab tentang strategi pembelajaran; itu akan digunakan di sini untuk menunjukkan bagaimana untuk mendapatkan informasi dari peserta didik selama analisis peserta didik.
Keller menyarankan untuk menanyakan beberapa pertanyaan kepada peserta didik seperti ini: seberapa relevennkah tujuan instruksional pembelajaran ini terhadap kebutuhan siswa? Aspek-aspek apa saja yang harus dipenuhi didalamnya? Seberapa yakin siswa dapat berhasil untuk melakukan tujuan? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini akan memberikan wawasan pada target populasi dan ke arah masalah pada desain pembelajaran. Hal ini penting untuk mengetahui bagaimana peserta didik rasakan sebelum Anda merancang instruksi atau mendesain pembelajaran. Kami akan membahas implikasi dari motivasi akademik pelajar dan menjelaskan prosedur untuk mengumpulkan data motivasi setelah mempertimbangkan karakteristik yang lebih umum dari peserta didik.
5) Tingkat Pendidikan dan Kemampuan Siswa
Tentukan tingkat prestasi dan kemampuan umum peserta didik. Informasi ini akan memberikan wawasan ke dalam jenis pengalaman instruksional. Mereka mungkin memiliki kemampuan tertentu dan mungkin kemampuan mereka dapat memberikan pendekatan baru dari yang berbeda berdasarkan instruksi pembelajaran.
6) Pemilihan Cara Pembelajaran atau Pembelajaran yang disukai
Cari tahu tentang keterampilan populasi yang menjadi sasaran belajar dan pemilihan pembelajaran umum mereka untuk mencari cara baru belajar. Dalam kata lain, apakah pembelajar terpaku pada pendekatan diskusi kuliah/ceramah untuk belajar, atau mereka sukses dengan cara seminar kelas, studi kasus, kelompok kecil pembelajaran berbasis masalah? Banyak telah ditulis tentang “gaya belajar” dan menilai gaya pribadi siswa belajar sehingga pembelajaran yang dapat disesuaikan untuk efektivitas maksimum pembelajaran. Penelitian menunjukkan bahwa gaya siswa dapat diidentifikasi, tetapi gaya seperti itu sering berasal dari ekspresi pelajar berdasakan pengalaman pribadi pada sasat mendengarkan, melihat, membaca, diskusi kelompok kecil, dan sebagainya.
7) Sikap Siswa terhadap Organisasi Pelatihan atau Pendidikan
Tentukan sikap terhadap populasi sasaran kelompok saat instruksi pembelajaran. Apakah mereka pandangan, positif baik dari managemen maupun rekan-rekan mereka, atau mereka agak kurang merespon tentang kepemimpinan seseorang dan kemampuan mereka untuk pembelajaran yang sesuai? Mereka dengan sikap positif tentang kelompok dan rekan-rekan mereka yang lebih cenderung untuk menggunakan keterampilan.
8) Karakteristik Kelompok
Sebuah analisis yang cermat dari siswa akan memberikan beberapa informasi tambahan yang dapat berpengaruh dalam desain pembelajaran.
Yang pertama adalah tingkat heterogenitas atau keberagaman dalam populasi sasaran terhadap variabel-variabel penting. Jelas, mencari cara untuk memahami keragaman sangat penting. Hal ini tidak hanya menerima deskripsi mengenai peserta didik; hal ini membutuhkan interaksi dengan peserta didik untuk mengembangkan kesan dari apa yang diketahui siswa dan yang mereka butuhkan.
Variabel ini akan digunakan peserta didik untuk memilih dan mengembangkan tujuan untuk pembelajaran, dan hal tersebut akan mempengaruhi berbagai komponen dari strategi instruksional. Mereka akan membantu desainer mengembangkan strategi motivasi untuk pembelajaran dan akan menyarankan berbagai jenis contoh yang dapat digunakan untuk mengilustrasikan poin-poin tertentu, cara-cara bagaimana pembelajaran dapat (atau tidak mungkin) akan diberikan atau cara untuk membuat praktek keterampilan yang relevan bagi peserta didik .
3.2 Mengumpulkan Data untuk Analisis Pembelajar
Ada berbagai cara untuk mengumpulkan data tentang peserta didik. Salah satu metode melakukan forum diskusi atau wawancara terstruktur. Wawancara ini mungkin menghasilkan informasi yang berharga tentang pengetahuan awal peserta didik, tujuan siswa, sikap tentang isi, dan laporan individu mengenai tingkat keterampilannya. Desainer juga bisa mengamati peserta didik dalam konteks kinerja dan instruksional. Entah di situs atau menggunakan teknologi jarak, desainer bisa mengelola survei dan kuesioner untuk memperoleh informasi yang sama tentang kepentingan pembelajar, tujuan, sikap, dan keterampilan laporan diri. Selain laporan diri dan penilaian atasan, desainer bisa mengelola pretests untuk mengidentifikasi pengetahuan awal peserta didik yang sebenarnya dan pengetahuan sebelumnya dan keterampilan.
3.3 Analisis Konteks Performansi Pembelajaran
Para desainer harus memperhatikan karakteristik dari pengaturan di mana keterampilan dan pengetahuan yang akan digunakan. Instruksi atau pembelalajaran pada dasarnya harus memenuhi kebutuhan penilaian. Penilaian kebutuhan harus didasarkan pada indentifikasi kinerja masalah yang dapat diselesaikan melalui yang dapat memberikan pengarahan bagi suatu kelompok. Instruksi harus berkontribusi untuk memenuhi kebutuhan yang diidentifikasi dari peserta didik melalui keterampilan dan sikap yang digunakan pada saat proses pembelajaran. Analisa yang akurat dari konteks pembelajaran harus para desainer untuk mengembangkan pengalaman belajar yang lebih otentik, sehingga meningkatkan motivasi pembelajar, sikap relevan pada tujuan instruksional, dan menghubungkan pengetahuan dan keterampilan baru ke aplikasi kerja.
1) Pengaturan dari Manager/ Kepala Sekolah dan Supervisor/ Pengawas
Kita harus mengetahui tentang organisasi pendukung peserta didik agar mereka dapat menerima dan memahami ketika menggunakan keterampilan baru. Penelitian menunjukkan bahwa salah satu pendukung untuk keterampilan baru adalah pengaturan baru (disebut transfer pelatihan/hasil dari latihan) adalah dukungan yang diterima oleh pelajar. Jika tim, pengawas, atau rekan mengabaikan keterampilan baru yang diperoleh, maka penggunaan keterampilan baru itu akan berhenti. Jika salah satu anggota memiliki kesempatan dan memuji mengenai keterampilan-keterampilan baru dan kemudian akan terus digunakan, dan mudah-mudahan akan dapat mengatasi masalah yang diidentifikasi dalam penilaian kebutuhan dasar.
2) Ruang Lingkup Aspek Fisik
Aspek kedua dari analisis konteks adalah untuk menilai konteks fisik di mana keterampilan akan digunakan. Akan menggunakan mereka bergantung pada peralatan, fasilitas, peralatan, waktu, atau sumber daya lainnya? Informasi ini dapat digunakan untuk merancang pelatihan sehingga keterampilan dapat dipraktekkan kondisi semirip mungkin dengan yang ada pada aplikasi kerja.
3) Ruang Lingkup Aspek Sosial
Memahami konteks sosial untuk memahami keterampilan harus diterapkan. Hal ini sangat penting untuk merancang pengajaran yang efektif. Dalam menganalisis aspek sosial, beberapa pertanyaan yang berhubungan adalah sebagai berikut. Apakah peserta didik bekerja sendiri atau sebagai anggota tim? Apakah mereka bekerja secara mandiri dilapangan, atau mereka akan menyajikan ide dalam pertemuan kelompok atau mengawasi anggota lain? Apakah keterampilan yang dipelajari sudah dipahami oleh anggota lain, atau pembelajar menjadi yang pertama.
4) Hubungan Keterampilan untuk Aplikasi Kerja
Untuk memastikan bahwa keterampilan baru memenuhi kebutuhan yang diharapkan, kita harus menilai relevansi keterampilan memenuhi kebutuhan yang dapat teridentifikasi, kita harus menghubungkan keterampilan yang dipelajari oleh pembelajar sebagai hasil kerja pada aspek kinerja hasil. Hal ini menguji realitas untuk memastikan instruksi yang diberikan menjadi solusi, atau bagian dari solusi, untuk memenuhi kebutuhan awal. Desainer harus menilai kendala fisik, sosial, atau motivasi untuk digunakan pada keterampilan baru. Kendala fisik mungkin termasuk kurangnya ruang kerja, peralatan yang usang, waktu tidak memadai atau jadwal, atau anggota yang terlalu sedikit.
3.4 Mengumpulkan Data untuk Analisis Kinerja Konteks
Meskipun beberapa analisis instruksional dapat dilakukan pada proses pembelajaran, analisis konteks membutuhkan desainer untuk mengamati hasil kerja karena mereka memberikan informasi penting tidak hanya untuk masukan langsung ke hasil kerja, tetapi juga untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan desainer.
Tujuan analisis konteks harus direncanakan dengan baik di awal, dengan satu atau lebih tahapan harus dibuat. Idealnya tahapan ini harus terjadi pada waktu yang sama yaitu saat analisis instruksional dilakukan. Tempat mengenai spesifik situasi, dan beberapa proses mungkin telah diidentifikasi dalam penilaian kebutuhan.
Dilakukan kunjungan untuk mengumpulkan data dari siswa yang memiliki kemampuaan, anggota dan untuk mengamati lingkungan kerja di mana mereka memiliki keterampilan baru akan digunakan. Pengumpulan data berdasarkan pada prosedur meliputi wawancara dan observasi. Wawancara harus dilakukan dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan tertulis dan melalui situasi atau kinerja tertentu tergantung pada sifat unik dari masing-masing tempat.
Hasil
Keluaran utama dari tahap penelitian ini adalah (1) deskripsi tentang lingkungan fisik dan organisasi di mana keterampilan akan digunakan, (2) daftar faktor-faktor khusus yang dapat memfasilitasi peserta didik pada penggunaan keterampilan baru.
3.5 Analisis Konteks Pembelajaran
Ada dua aspek pada analisis konteks pembelajaran yang menentukan apa yang akan dilakukan adalah mereview tempat dimana instruksi dilakukan. 1) Kompatibilitas dari persyaratan instruksional 2) Kemampuan adaptasi untuk menstimulasikan tempat kerja. 3) kemampuan adaptasi dalam penyampaian 4) Faktor-faktor pembelajaran yang mempengaruhi rancangan pembelajaran dan penyampaiannya. Berikut ini diuraikan dengan singkat berdasarkan paragraf masing-masing.
1) Kompatibilitas dari Persyaratan Instruksional
Dalam pernyataan tujuan instruksional disiapkan pada langkah pertama dari model, yaitu alat lain yang mendukung item yang dibutuhkan untuk melakukan tujuan yang telah terdaftar. Apakah lingkungan belajar yang Anda kunjungi termasuk bagian-bagian ini? Dapatkah mereka melakukan jika mereka diberikan proses pembelajaran? Dan, yang sangat penting, apakah mereka kompatibel dengan orang-orang di tempat pembelajaran lain yang dapat digunakan untuk instruksi?
2) Kemampuan Adaptasi untuk Menstimulasikan dengan Lingkungan Kerja
Masalah lainnya adalah kompatibilitas lingkungan pada pembelajaran yaitu lingkungan kerja. Dalam pembelajaran, diupayakan untuk mensimulasikan bentuk faktor-faktor lingkungan kerja yang penting untuk kinerja dan hasil. Apakah untuk melakukannya dalam konteks pembelajaran yang ditunjuk atau ditentukan? Apa yang harus diubah atau ditambahkan?.
3) Kemampuan Adaptasi pada Penyampaian
Daftar persyaratan dari pernyataan tujuan menunjukan bahwa apa yang harus berkaitan dengan konteks pembelajaran? Yang termasuk konteks kinerja juga. Mungkin ada keterbatasan lainnya atau persyaratan yang harus diperhatikan dalam analisis. Ini terkait dengan tujuan organisasi yang telah ditempatkan pada instruksi. Tentukan apa pendekatan penyampaian dapat digunakan pada instruksional yang diusulkan.
4) Faktor-faktor Pilihan Pembelajaran Mempengaruhi Rancangan dan Penyampaian
Untuk alasan apapun keputusan diawal mungkin telah dikemukakan bahwa instruksi ini akan self-instruksional. Dalam jenis kasus ini, analisis konteks lingkungan pembelajaran menjadi sangat penting. Dalam situasi yang ideal, lokasi pembelajaran dan cara penyampaian akan diputuskan berdasarkan analisis persyaratan dan tujuan instruksional. Beberapa orang berpendapat bahwa pembelajaran tidak harus disampaikan saat individu memiliki kebutuhan itu. Ini akan disampaikan, tepat pada waktunya, di lingkungan kerja, tidak dalam kelompok pengaturan di ruang kelas.
3.6 Sekolah Umum
Sebelum menuju ke bagian ringkasan, kita perlu meninjau pelajar dan analisis konteks dari dari pandangan desainer yang akan mengembangkan instruksi untuk sekolah-sekolah umum. Desainer yang mendukung pembelajaran pelajar dan analisis lingkungan mungkin percaya bahwa mereka sudah dekat dengan sekolah umum, dan tidak perlu adanya analisis lebih lanjut. Kami mendorong Anda memperbaharui dasar pengalaman Anda dengan melakukan analisis yang diusulkan dengan peserta didik, guru, dan ruang kelas yang khas. Kami juga mendorong Anda untuk berpikir di luar buku teks yang diterima dan pendekatan kurikulum sekolah panduan untuk publik. Bahwa pendekatan telah menyebabkan kritik, hal ini mengemukakan bahwa pendidikan publik menekankan ingatan faktual pada pemahaman konseptual dan masalah buku teks dari aplikasi yang mendasar. Hal ini menyebabkan tidak hanya untuk berkurangnya motivasi siswa, tetapi juga ketidakmampuan untuk menghubungkan pembelajaran untuk aplikasi yang bermakna, yaitu situasi kehidupan nyata masalah di luar sekolah.
Analisis lain dari konteks kinerja berkaitan dengan penggunaan keterampilan dan pengetahuan di luar sekolah. Mengapa siswa belajar keterampilan ini? Apakah mereka menerapkan aplikasi di rumah atau masyarakat, dalam hobi atau kegiatn rekreasi, atau dalam kegiatan pendidikan kejuruan atau lebih tinggi? Jika demikian, hati-hati pada aplikasi kinerja konteks yang membawa mereka ke tahap strategi instruksional desain. Aplikasi ini persis apa ini diperlukan untuk meningkatkan motivasi, menyediakan konteks untuk materi baru, contoh-contoh, dan kegiatan praktek desain yang dilihat relevan dengan siswa. Pada dasarnya, kami percaya bahwa para pelajar dan langkah konteks analisis dalam model desain instruksional sama penting untuk desainer sekolah umum.
3.7 Evaluasi dan Revisi Analisis Instruksional
Kebanyakan desainer meninjau dan merevisi analisis desain sebelum instruksi materi awal dibuat. Salah satu komponen dari proses desain untuk tahap awal mencoba adalah membuat analisis instruksional. Alasan kita membahas uji coba pada bab ini ini, adalah agar uji coba dapat terjadi pada waktu yang sama saat desainer melakukan analisis pembelajaran dan konteks. Mereka menganalisis dan membawa desainer ke dalam konteks dengan peserta didik yang potensial, atau peserta didik baru, yang dapat meninjau analisis instruksional dengan desainer.
Diagram analisis instruksional menunjukkan tujuan, langkah-langkah yang diperlukan untuk tujuan, langkah-langkah yang diperlukan untuk tujuan pembelajaran, keterampilan bawahan, dan pengetahuan awal yang diperlukan. Dalam meninjau analisis Anda, pilih beberapa orang yang memiliki karakteristik target populasi.
Anda juga mungkin menjelaskan materi Anda ke pengawas di lingkungan kerja untuk mendapatkan masukan mereka. Pengawas dapat memberikan wawasan dari kedua pakar konten dan konteks-kelayakan perspektif. Masukan dari target peserta didik dan supervisor akan menandatangani proses, menulis tujuan kinerja dan penilaian, yang tergantung sepenuhnya pada informasi dari analisis instruksional.
4. Contoh
Karakteristik peserta didik dalam mengidentifikasi dan karakteristik kontekstual kinerja dan pengaturan belajar adalah langkah awal yang penting dalam merancang instruksi. Dalam bagian ini kami menggambarkan bagaimana karakteristik peserta didik, konteks kinerja konteks pembelajaran dapat digambarkan menggunakan format matriks dua dimensi.
Contoh untuk Menganalisis Konteks Pembelajaran
Kategori Informasi Sumber Data Ruang Lingkup Karakteristik Pembelajaran
1. Jumlah/sifat dari ruang lingkup
2. Ruang lingkup kompabiliti dengan kebutuhan instruksional.
3. Ruang lingkup kompabiliti dengan kebutuhan pembelajar.
4. Kelayakan pada simulasi lingkungan kerja Wawancara; Manager;
Ruang lingkup kunjungan;
Tabel. 5.3 Dick and Carey (hal.111)
5. Ringkasan
Untuk memulai tahap desain instruksional, Anda harus telah menyelesaikan atau akan bekerja pada analisis tujuan dan analisis keterampilan bawahan termasuk identifikasi pengetahuan awal. Anda juga harus memiliki ide umum tentang populasi target untuk instruksi yang akan dikembangkan.

Permasalahan : 
Dari Informasi-informasi yang perlu diketahui desainer tentang target populasi mereka yaitu diantaranya : (1) pengetahuan awal, (2) pengetahuan yang diperlukan suatu topik, (3) sikap terhadap materi pembelajaran dan cara penyampaian (4) motivasi akademik, (5) tingkat pendidikan dan kemampuan siswa, (6) pemilihan pembelajaran umum, (7) sikap terhadap kelompok dalam memberikan pembelajaran (8) karakteristik kelompok.
yang ingin saya tanyakan, terkait dengan motivasi akademik siswa. Sebagai seorang guru, apa yang akan anda lakukan, jika mendapati siswa yang memiliki motivasi akademik sangat rendah. bagaimana caranya meningkatkan motivasi akademik siswa tersebut, agar nantinya tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dapat tercapai pada seluruh siswa.?

Kamis, 14 Desember 2017

MENGIDENTIFIKASI SUBORDINAT DAN KETERAMPILAN AWAL



Setelah langkah Dalam tujuan telah diidentifikasi, perlu untuk memeriksa setiap langkah untuk menentukan apa yang pelajar harus tahu atau mampu lakukan sebelum mereka bisa belajar melakukan itu langkah di tujuan. Langkah kedua dalam proses analisis instruksional ini disebut sebagai analisis keterampilan bawahan.
Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi ketrampilan bawahan yang sesuai untuk setiap langkah. Jika keterampilan yang dibutuhkan dihilangkan dari instruksi dan banyak siswa belum melakukannya mintalah mereka, maka instruksi akan menjadi tidak efektif. Namun, jika skillnya berlebihan disertakan, instruksi akan memakan waktu lebih lama dari seharusnya, dan keterampilan yang tidak perlu mungkin benar-benar mengganggu pembelajaran keterampilan yang dibutuhkan. Identifikasi Terlalu banyak atau terlalu sedikit keterampilan bisa menjadi masalah.
Beberapa proses digunakan untuk mengidentifikasi keterampilan bawahan. Kami menggambarkan masing – masing teknik dan menunjukkan bagaimana mereka dapat diterapkan pada berbagai jenis tujuan. Kita mulailah dengan tujuan "murni" - yaitu, tujuan di mana langkah-langkah itu hanya bersifat intelektual atau keterampilan psikomotorik. Tujuan kompleks, bagaimanapun, sering melibatkan beberapa domain.  Kombinasi pendekatan yang bisa digunakan dengan tujuan yang kompleks juga dijelaskan

Konsep

Pendekatan hirarkis

Analisis hierarkis digunakan untuk menganalisis langkah-langkah individu dalam tujuan analisis yang tergolong keterampilan intelektual atau psikomotor. Untuk mengerti Pendekatan hirarkis, mempertimbangkan tujuan instruksional yang mengharuskan siswa untuk membenarkan rekomendasi bahwa bagian tertentu dari real estat harus dibeli pada waktu tertentu. Ini adalah tujuan keterampilan intelektual, dan ini menuntut siswa untuk mempelajari sejumlah peraturan dan konsep yang berkaitan dengan penilaian nilai properti, pengaruh inflasi terhadap nilai properti, status keuangan pembeli, dan tujuan investasi jangka pendek dan jangka pendek pembeli. Keterampilan di masing-masing bidang ini bergantung pada pengetahuan tentang konsep dasar yang digunakan dalam keuangan dan real estat ladang. Dalam contoh ini, sangat penting untuk mengidentifikasi dan mengajarkan masing – masing aturan dan konsep kritis sebelum mengajarkan langkah-langkah untuk menganalisa sesuatu yang nyata situasi pembelian barang dan membuat rekomendasi.
Bagaimana perancang mengidentifikasi keahlian bawahan seorang siswa harus belajar untuk mencapai keterampilan intelektual tingkat tinggi? Hirarkis Teknik analisis yang disarankan oleh Gagné (1985) terdiri dari mengajukan pertanyaan, "Apa yang harus diketahui siswa sehingga, dengan jumlah instruksi minimal, tugas ini bisa dipelajari?" Dengan menjawab pertanyaan ini, perancang bisa mengidentifikasi satu atau lebih keterampilan subordinasi penting yang dibutuhkan pelajar sebelum mencoba instruksi pada langkah itu sendiri. Setelah keterampilan bawahan ini diidentifikasi, Perancang kemudian mengajukan pertanyaan yang sama berkenaan dengan masing-masing, yaitu, "Apa itu? Itu yang harus diketahui siswa bagaimana caranya, ketiadaan yang akan dilakukan Tidak mungkin untuk mempelajari keterampilan bawahan ini? "sehingga mengidentifikasi satu atau lebih tambahan keterampilan bawahan Jika proses ini dilanjutkan dengan semakin rendah tingkat keterampilan bawahan, seseorang dengan cepat mencapai tingkat kinerja yang sangat mendasar, seperti mampu mengenali bilangan utuh atau mampu mengenali huruf.
Untuk mendapatkan pemahaman visual bagaimana desainer "membangun" hirarkis analisis, pertimbangkan hierarki generik yang ditunjukkan pada Gambar 4.1. Di sini, aturan melayani sebagai keterampilan bawahan langsung yang dibutuhkan untuk mempelajari pemecahan masalah tertentu ketrampilan. Penting untuk dipahami bahwa kotak 2 mewakili satu langkah dalam berkinerja hasil. Setelah aturan telah diidentifikasi (kotak 2.4), perancang kemudian bertanya, "Apa Haruskah siswa tahu bagaimana melakukannya untuk mempelajari peraturan? "Jawabannya adalah begitu siswa harus belajar dua konsep, yang terwakili dalam kotak 2.2 dan 2.3. Saat ditanya, "Apa yang harus diketahui siswa bagaimana caranya mempelajari konsep tersebut? di kotak 2.2? "jawabannya tidak berarti, jadi tidak ada keahlian tambahan yang terdaftar. Untuk kotak 2.3, pertanyaan tersebut menghasilkan identifikasi diskriminasi yang relevan, yaitu ditunjukkan pada kotak 2.1. Gambar 4.1 menunjukkan bagaimana analisis muncul saat ditata dalam sebuah diagram, dan konsisten dengan hirarki keterampilan intelektual Gagné. Gagné mencatat bahwa untuk belajar bagaimana melakukan keterampilan pemecahan masalah, peserta didik harus pertama tahu bagaimana menerapkan aturan yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah. Subskill langsung ke tujuan instruksional adalah peraturan yang harus diterapkan situasi bermasalah
Selanjutnya, Gagné mencatat bahwa peraturan didasarkan pada pengenalan komponen atau konsep yang digabungkan dalam aturan. Dengan kata lain, untuk mempelajari hubungan di antara "sesuatu," Anda harus bisa mengklasifikasikannya. Keterampilan bawahannya diperlukan untuk aturan tertentu biasanya mengklasifikasikan konsep yang digunakan dalam peraturan.
Akhirnya, pelajar harus bisa membedakan apakah contoh tertentu relevan dengan konsepnya. Hirarki ketrampilan ini sangat membantu perancang karena bisa digunakan sarankan jenis keterampilan bawahan spesifik yang dibutuhkan untuk mendukung pekerjaan tertentu langkah di tujuan Jika langkahnya adalah keterampilan pemecahan masalah (atau memilih dan menggunakan sejumlah peraturan), maka subskill harus menyertakan peraturan, konsep, dan peraturan yang relevan diskriminasi. Namun, jika penerapan aturan tunggal diajarkan, maka hanya konsep bawahan dan diskriminasi yang diajarkan.
Untuk menerapkan pendekatan hierarkis pada langkah-langkah dalam analisis sasaran, perancang menerapkannya pada setiap langkah di dalam sasaran, termasuk langkah-langkah pengambilan keputusan. Pertanyaan, "Apa yang harus dipelajari pelajar agar bisa belajar melakukan langkah pertama dalam berkinerja tujuannya? "diulang untuk masing-masing subskill untuk langkah pertama dan kemudian untuk masing-masing dari sisa langkah di tujuan. Jika pendekatan ini digunakan dengan hipotetis Tujuan pemecahan masalah yang ditunjukkan pada Gambar 4.1, hasilnya mungkin mirip dengan yang ditunjukkan pada Gambar 4.2.
Perhatikan pada Gambar 4.2 bahwa subskill yang sama telah diidentifikasi seperti pada metodologi asli yang disarankan oleh Gagné. Fakta bahwa tidak ada subskill yang terdaftar Langkah 1, 3, dan 4 menunjukkan tekad sang desainer bahwa tidak ada yang relevan Keterampilan yang harus dipelajari peserta didik sebelum diajarkan langkah-langkah ini. Ini sering merupakan asumsi yang masuk akal.
Contoh yang dihasilkan dari penggunaan teknik analisis instruksional hirarkis muncul pada Gambar 4.3. Pada diagram, dapat dilihat bahwa langkah 8 dari tujuan analisis mengharuskan siswa untuk memperkirakan ke seperseratus terdekat unit (± 0,01) titik yang ditunjuk pada skala linier hanya ditandai dalam sepersepuluh. Tiga keterampilan bawahan telah diidentifikasi untuk langkah 8, yang terkait dengan memperkirakan satu titik ke titik terendah di atas skala yang ditandai hanya dalam satuan persepuluh, membagi skala tersebut menjadi subunit, dan mengidentifikasi titik yang ditunjuk pada skala tertentu. Masing-masing keterampilan ini memiliki keterampilan bawahan yang teridentifikasi.
Penggunaan analisis hirarkis juga diilustrasikan pada Gambar 4.4. Perhatikan bahwa Tugas kognitif yang dilakukan oleh peserta didik ditunjukkan pada empat substep berturut-turut diberi label 1 sampai 4 dari analisis tujuan. Dalam contoh khusus ini, keterampilan bawahan sama dengan yang diidentifikasi untuk keterampilan yang sama pada Gambar 4.3; namun, Perlu dicatat bahwa mereka diatur agak berbeda.
Analisis khusus ini tidak dirancang berdasarkan satu upaya di proses-atau bahkan dua atau tiga. Dibutuhkan sejumlah upaya untuk mengidentifikasi keterampilan bawahan vertikal dan keterkaitannya sebelum Anda dapat memenuhinya semua keterampilan yang relevan diidentifikasi dan dinyatakan dengan tepat. Hampir tidak mungkin untuk mengetahui kapan analisis hierarkis yang tepat dan valid dari instruksional Tujuan telah tercapai.
Setelah Anda puas bahwa Anda telah mengidentifikasi semua kebutuhan subskill siswa untuk menguasai tujuan instruksional Anda, sekarang saatnya untuk membuat diagram analisis Anda konvensi berikut:
1.      Tujuan instruksional dinyatakan di atas. Semua langkah di gawang akan muncul kotak bernomor di bagian atas hirarki.
2.      Semua keterampilan intelektual bawahan muncul dalam kotak yang dilekatkan melalui jalur datang dari puncak dan dasar kotak.
3.      Informasi verbal dan keterampilan sikap melekat pada intelektual dan motor keterampilan melalui garis horizontal (ditunjukkan pada bagian selanjutnya).
4.      Tombol tanda panah menunjukkan bahwa aliran ketrampilan naik ke arah tujuan.
5.      Jika dua garis tidak berpotongan, maka gunakan lengkung, seperti yang ditunjukkan pada garis antara kotak 2 dan 7 pada Gambar 4.3. Penafsirannya adalah keterampilan pada langkah 2 diperlukan untuk langkah 5 dan 7, tapi bukan langkah 6.
6.      Pernyataan semua keterampilan bawahan, termasuk keputusan, harus mencakup kata kerja itu menunjukkan apa yang harus dilakukan siswa. Hindari kotak yang hanya berisi kata benda.
7.      Di dunia nyata, hierarki tidak harus simetris, dan bisa mereka ambil pada segala bentuk. Tidak ada tampilan yang benar untuk sebuah hirarki.
8.      Jika salah satu langkah dalam analisis tujuan adalah sebuah pertanyaan dan diwakili oleh sebuah Keputusan berlian, perlu untuk menentukan apakah ada bawahan keterampilan yang dibutuhkan untuk membuat keputusan itu.
Melakukan analisis hierarkis untuk setiap langkah tidaklah mudah, karena kita tidak terbiasa memikirkan isi pengajaran dari sudut pandang ini. Satu Cara untuk melanjutkan adalah bertanya, "Kesalahan apa yang mungkin dilakukan siswa jika mereka belajar? keterampilan khusus ini? "Seringkali, jawaban atas pertanyaan ini adalah kunci untuk mengidentifikasi keterampilan bawahan yang sesuai untuk keterampilan yang dipermasalahkan. Jenis kesalahpahaman yang mungkin ditunjukkan oleh siswa tentang pemahaman, juga dikenal sebagai keterampilan, yang harus mereka miliki. Misalnya, jika siswa mungkin salah karena mereka menjadi bingung antara stalaktit dan stalagmit, maka keterampilan bawahan yang penting adalah kemampuan untuk mengklasifikasikan contoh kedua entitas ini.
Penting untuk meninjau kembali analisis Anda beberapa kali, memastikan Anda melakukannya telah mengidentifikasi semua subskill yang dibutuhkan siswa untuk menguasai instruksional tujuan. Pada titik ini, Anda harus kembali menggunakan prosedur mundur, dari keterampilan tertinggi dan paling kompleks dalam hierarki Anda ke yang terendah dan paling sederhana keterampilan yang dibutuhkan oleh peserta didik Anda. Hal ini memungkinkan Anda untuk menentukan apakah Anda memilikinya termasuk semua subskill yang diperlukan. Mungkin untuk memeriksa kecukupan analisis melangkah mundur Anda dengan memulai dengan keterampilan paling sederhana dalam hierarki Anda dan bekerja ke atas melalui subskill ke keterampilan yang paling kompleks. Anda harus juga mengajukan pertanyaan berikut:
1.      Apakah saya menyertakan subskill yang berhubungan dengan identifikasi konsep dasar, semacam itu sebagai objek atau kualitas objek? (Contoh: Dapatkah tetrahedron diidentifikasi?)
2.      Apakah saya menyertakan subskill yang memungkinkan siswa mengidentifikasi abstraksi dengan cara dari sebuah definisi? (Contoh: Dapatkah siswa menjelaskan apa itu kota atau menunjukkan apa emulsi adalah?)
3.      Apakah saya menyertakan subskill yang memungkinkan siswa menerapkan peraturan? (Contoh: Bisa Siswa membuat verba kalimat setuju dengan subjek, atau menyederhanakan pecahan campuran?)
4.      Apakah saya menyertakan subskill dalam analisis yang memungkinkan siswa untuk belajar bagaimana caranya memecahkan masalah yang menunjukkan penguasaan tujuan instruksional?
Anda mungkin dapat mengidentifikasi subskill yang telah Anda hilangkan dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan ini untuk mengevaluasi analisis instruksional Anda. Anda mungkin juga membuat jenis lain Penemuan menarik, yaitu, bahwa tujuan instruksional Anda terbatas pada memiliki siswa belajar bagaimana melakukan diskriminasi atau mengidentifikasi konsep. Meski demikian Ketrampilan jelas penting, mungkin perlu memodifikasi pernyataan tujuan dengan mewajibkan siswa untuk menggunakan peraturan atau untuk memecahkan masalah yang memerlukan penggunaan konsep dan diskriminasi yang semula Anda nyatakan di dalam tujuan Anda.
Anda mungkin juga menemukan bahwa Anda telah memasukkan keterampilan yang bagus untuk diketahui tapi tidak sangat dibutuhkan untuk mencapai tujuan anda. Banyak perancang mulai dengan sikap bahwa keterampilan ini penting dan harus disertakan. Pada akhirnya, tidak berguna Tugas sering membingungkan peserta didik atau tidak perlu meningkatkan panjang instruksi, yang dapat menyebabkan instruksi untuk tugas yang lebih penting dilarikan atau dihilangkan karena kendala waktu. Tidak perlu menyertakan semua yang anda ketahui tentang topik dalam hirarki. Inti penggunaan pendekatan hirarkis adalah untuk mengidentifikasi apa yang pelajar harus tahu untuk menjadi sukses-tidak lebih, dan tidak kurang. Meskipun kadang-kadang menggoda untuk tidak melakukannya, saran terbaik kami adalah melakukannya Biarkan analisis mengidentifikasi keterampilan untuk Anda. Ini benar-benar titik awal terbaik.
Saat Anda melanjutkan dengan analisis instruksional, penting untuk memiliki yang jelas Gagasan tentang perbedaan antara langkah dan substep untuk melakukan suatu tujuan dan keterampilan bawahan. Langkah dan substeps adalah kegiatan yang dilakukan seorang ahli atau a Orang yang kompeten akan menggambarkan sebagai langkah dalam pertunjukan. Bawahan Keterampilan tidak harus diidentifikasi oleh orang yang kompeten saat mendeskripsikan proses. Inilah keterampilan dan pengetahuan yang harus dipelajari peserta didik sebelum mereka bisa melakukan langkah di gawang. Misalnya, jika Anda sedang mengajar seseorang untuk mendidih air, salah satu langkahnya adalah "Hidupkan pembakar." Salah satu keterampilan bawahannya Langkah itu adalah "Identifikasi contoh pembakar." Jika Anda benar-benar air mendidih, Anda tidak akan pernah mengatakan, "Ini adalah pembakar"; Anda hanya akan meletakkan panci dengan air di burner Jelas, Anda harus mengenali pembakar, tapi secara lisan mengidentifikasinya Bukan langkah dalam proses mendidih air.
Analisis Prosedural
Terkadang ketika melihat langkah-langkah dalam analisis tujuan untuk keterampilan intelektual atau psikomotor, satu atau beberapa langkah dalam analisis tujuan ditemukan mengandung set tambahan langkah mental atau fisik. Bila ini masalahnya, cukup tuliskan keterampilannya dari kiri ke kanan dengan cara langkah-demi-langkah yang sama seperti yang dilakukan untuk tujuan semula analisis, seperti yang ditunjukkan pada diagram berikut

Langkah 1 sampai 5 adalah langkah awal dalam analisis tujuan. Langkah 2.1 adalah bawahan ke langkah 2, seperti dalam hubungan hierarkis yang khas. Langkah 4.1, 4.2, dan 4.3 adalah subskill dari langkah 4 dimana mereka menjelaskan tiga langkah prosedural tambahan Langkah 4 disusun. Langkah 4.2.1 adalah bawahan ke langkah 4.2 dalam hierarki normal hubungan.
Perhatikan contoh langkah berikut dalam tujuan instruksional. Pertama adalah "Tempatkan jack di bawah bumper mobil." Meski ini bisa digambarkan sebagai seri Langkah untuk populasi orang dewasa, mungkin paling baik digambarkan sebagai satu langkah dalam Proses mengganti ban pada mobil. Tapi bagaimana dengan langkah pemecahan masalah, seperti "Melakukan penilaian kebutuhan"? Ini adalah langkah dalam tujuan merancang instruksi itu Tentunya terlalu besar untuk menjadi satu langkah bagi penonton. Harus dipecah ke dalam langkah-langkah seperti "Jelaskan status ideal," "Instrumen desain untuk pengumpulan data," "Kumpulkan data untuk mendokumentasikan status saat ini," dan "Tentukan kesenjangan antara status ideal dan status saat ini." Sekarang pertimbangkan contoh terakhir ini: Misalkan salah satu langkah dalam analisis tujuan adalah "air mendidih." Kebanyakan orang dewasa harus tahu apa yang harus dilakukan, atau mereka Bisa diajarkan dengan cepat. Bagi pelajar yang masih kecil, mungkin perlu mencantumkan substeps sebagai "Get pan dari lemari," "Isi dengan air," "Tempatkan wajan pembakar, "" Hidupkan pembakar, "" Apakah air menggelegak? "dan" Lepaskan panci. "Ini adalah a contohnya sangat sederhana, tapi ini menggambarkan bagaimana substeps diidentifikasi. Gambar 4.6 (hal 80) adalah contoh lain bagaimana satu langkah dalam analisis tujuan (langkah 4) dipecah ke langkah prosedural tambahan (langkah 4.1 sampai 4.5). Untuk keterangan tambahan Analisis prosedural, pembaca disebut Bab Tiga, di mana tekniknya dibahas secara menyeluruh dalam deskripsi analisis tujuan.
Analisis Cluster
Cluster analysisis digunakan saat tujuan instruksional atau subskill utama pada tujuan membutuhkan informasi verbal. Kami menunjukkan sebelumnya bahwa itu membuat Tak masuk akal untuk mencoba melakukan analisis tujuan terhadap tujuan informasi verbal karena tidak logis Prosedur melekat pada tujuan. Sebagai gantinya, Anda langsung beralih ke identifikasi informasi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.
Bagaimana Anda mengidentifikasi keterampilan bawahan yang harus diajarkan? Jawabannya hampir selalu terlihat dari pernyataan tujuan itu sendiri. Jika siswa harus dapat mengidentifikasi negara bagian yang terkait dengan masing-masing ibu kota, maka jumlahnya lima puluh subskill, satu berhubungan dengan masing-masing negara bagian dan ibukotanya. Tidak ada gunanya menulis Mereka keluar sebagai bagian dari analisis karena bisa direproduksi dengan mudah dari a teks. Sebaliknya, subskill kadang tidak jelas, seperti pada "Daftar lima penyebab utama inflasi. "Jawabannya mungkin bergantung pada ekonomi tertentu teori. Dalam kasus ini, mungkin perlu dicatat lima alasan utama sebagai bagian dari apa kami sebut sebagai analisis klaster.
Analisis yang paling berarti dari tujuan informasi verbal adalah untuk mengidentifikasi kategori utama informasi yang tersirat oleh tujuan. Apakah ada cara yang informasi bisa dikelompokkan paling baik? Ibukota negara bisa dikelompokkan menurut ke wilayah geografis; tulang tubuh mungkin dikelompokkan oleh bagian utama tubuh, seperti kepala, lengan, kaki, dan batang tubuh. Jika tujuannya bisa bisa daftar semuanya kota bisbol liga utama, mereka mungkin dikelompokkan oleh Amerika dan Nasional liga dan kemudian oleh divisi.
Bagaimana Anda diagram analisis cluster? Salah satunya adalah dengan menggunakan teknik hirarkis dengan tujuan di bagian atas dan setiap cluster besar sebagai subskill, diberi label dengan jelas sebagai analisis cluster informasi verbal dan bukan hierarki. Ini sama mudahnya digunakan sebuah format garis besar dan cukup daftar masing-masing kelompok.
Terkadang memalukan bagi para desainer guru untuk menemukan bahwa ketika teknik analisis instruksional digunakan, tujuan instruksional yang sering mereka ajarkan dan untuk itu mereka ingin mengembangkan instruksi yang dirancang secara sistematis, dalam Faktanya, hanya informasi lisan. Mereka bisa merasa bersalah karena mereka tidak mengajarkan peraturan dan pemecahan masalah, tapi kesalahan ini terkadang salah tempat. Ada kalanya Akuisisi informasi verbal sangat penting. Misalnya belajar Kosa kata dalam bahasa asing adalah informasi lisan yang merupakan dasar dari belajar seperangkat keterampilan komunikasi yang sangat kompleks. Informasi verbal kami Harus belajar sebagai anak-anak atau sebagai orang dewasa adalah kendaraan yang kita gunakan untuk mengembangkan lebih banyak konsep dan aturan yang kompleks. Tujuan informasi verbal tidak boleh secara otomatis dibuang pada penemuan, namun dipertimbangkan untuk relevansinya dengan tujuan pendidikan penting lainnya. Informasi verbal adalah basis pengetahuan yang diminta saat kita melaksanakannya kami bagaimana-untuk keterampilan intelektual.
Teknik Analisis Sikap Sasaran
Untuk menentukan keterampilan bawahan untuk tujuan sikap, perancang harus bertanya, "Apa yang harus dilakukan peserta didik saat menunjukkan sikap ini?" dan "Mengapa Haruskah mereka menunjukkan sikap ini? "Jawaban untuk pertanyaan pertama hampir selalu psikomotor atau keterampilan intelektual. Tujuan dari tujuannya adalah untuk mendapatkan pelajar memilih untuk melakukan psikomotor atau keterampilan intelektual; Oleh karena itu, paruh pertama analisis untuk tujuan sikap memerlukan teknik analisis hirarkis, yang bantu dalam mengidentifikasi subskill yang dibutuhkan jika peserta didik memilih untuk melakukannya. Jika pelajar adalah memilih untuk melatih kompetisi "orang besi", maka perlu Ajari peserta pelatihan yang efektif. Jika peserta didik memilih untuk menghargai a Beberapa literatur tertentu, maka siswa harus belajar untuk memahami dan menganalisanya.
Bagian kedua dari analisis ini adalah, "Mengapa pelajar harus membuat sesuatu yang khusus pilihan? "Jawabannya biasanya adalah informasi lisan yang bisa dianalisis dengan baik analisis cluster yang terpisah, atau bisa diintegrasikan, sebagai informasi verbal, menjadi dasar analisis hirarkis yang dilakukan untuk paruh pertama analisis. Informasi verbal merupakan bagian sikap persuasif, bersama dengan pemodelan dan penguatan, dan harus disertakan sebagai bagian integral dari analisis instruksional.
Untuk mewakili suatu sikap pada bagan analisis instruksional, cukup tuliskan tujuan sikap di dalam kotak di samping tujuan keterampilan psikomotor atau intelektual untuk dianalisis. Hubungkan dua kotak utama dengan garis seperti ini:
Garis penghubung ini menunjukkan bahwa kemampuan motor atau intelektual mendukung tujuan sikap. Pada titik ini, jelas bahwa kita mulai menggabungkan berbagai teknik analisis. Kombinasi ini, terkadang disebut informasi peta, dijelaskan selanjutnya.
Teknik Analisis untuk Domain Kombinasi
Kita telah menggambarkan bagaimana suatu tujuan sikap dapat dianalisis dengan menggunakan analisis hirarkis. Hal ini sangat umum untuk menemukan bahwa proses analisis instruksional hasil dalam mengidentifikasi kombinasi keterampilan bawahan dari beberapa domain untuk sebuah tujuan yang tergolong hanya milik satu domain.
Pertimbangkan, misalnya kombinasi antara keterampilan intelektual dan informasi lisan. Bukan hal yang aneh bila melakukan analisis hirarkis untuk mengidentifikasi pengetahuan bahwa pelajar harus tahu. Mengetahui sesuatu bukanlah keterampilan intelektual Kami telah mendefinisikannya di sini, dan karena itu tidak, menurut peraturan, muncul pada hierarki keterampilan intelektual. Namun, seringkali penting pengetahuan ini, yang mana adalah informasi lisan, muncul sebagai bagian dari analisis tentang apa yang harus dipelajari mencapai tujuan instruksional Praktik standar adalah informasi verbal ditunjukkan pada diagram dengan garis penghubung, seperti ini:
Hal ini menunjukkan bahwa informasi lisan di kotak sebelah kanan digunakan dalam dukungan dari keterampilan intelektual di kotak sebelah kiri. Dalam hierarki, mungkin terlihat seperti ini:


Kotak 1, 3, dan 4 mewakili keterampilan intelektual, sedangkan kotak 2 adalah informasi lisan.
Apa yang terjadi jika Anda meletakkan semua teknik diagram bersama? Ini Bisa dibayangkan bahwa tujuan sikap dengan komponen psikomotor mungkin diperlukan keterampilan intelektual bawahan dan informasi lisan dan terlihat seperti ini:
Diagram tersebut menunjukkan bahwa tujuan utamanya adalah agar peserta didik mengembangkan sikap yang akan ditunjukkan dengan pelaksanaan beberapa keterampilan psikomotor. Keterampilan psikomotor terdiri dari tiga langkah - 1, 2, dan 3. Analisis keterampilan subskill 2 menunjukkan bahwa itu mencakup lima langkah, 2.1 sampai 2.5. Dua keterampilan intelektual, 2.1.1 dan 2.1.2, berada di bawah langkah 2.1. Keterampilan intelektual 2.4.2 membutuhkan verbal informasi, 2.4.1, untuk mendukung langkah 2.4.
Diagram Analisis Instruksional
Pada titik ini, mari tinjau prosedur diagram untuk melakukan instruksional analisis. Langkah pertama, tentu saja, adalah untuk mengklasifikasikan tujuan instruksional dan kinerjanya sebuah analisis tujuan Kemudian pilih teknik yang tepat untuk mengidentifikasi keterampilan bawahan.
Seiring perancang melanjutkan analisis, keterampilan bawahan ditampilkan secara visual dalam diagram. Bila diagrammed, diperlukan beberapa subskill tertentu mencapai tujuan terminal dapat memiliki berbagai penampilan struktural. Diagram berikut umumnya digunakan untuk mewakili analisis tujuan. Tidak ada bawahan keterampilan, sehingga semua keterampilan diagrammed dalam satu garis terus menerus.
Hal ini juga tradisional untuk menempatkan keterampilan super di atas keterampilan di mana mereka tergantung sehingga pembaca secara otomatis mengenali pembelajaran tersirat hubungan subskill Hal ini diilustrasikan pada diagram berikut. Melihat bahwa subskill 1.1, 1.2, dan 1.3 tidak bergantung satu sama lain, namun keterampilan belajar itu 1 membutuhkan pembelajaran sebelumnya 1.1, 1.2, dan 1.3. Tujuan 2, 3, dan 4 tidak saling tergantung; 4.1 dan 4.2 harus dipelajari sebelum 4.
Diagram berikut menggambarkan ketergantungan keterampilan berikutnya terhadap hal tersebut sebelum mereka
Siswa harus belajar subskill 1 agar bisa belajar melakukan subskill 2. Demikian juga, Sebelum subskill 4 dapat dipelajari, subskill 1, 2, dan 3 harus dikuasai; Dengan demikian, ini keterampilan membentuk hirarki. Catatan, ini tidak berarti bahwa 1, 2, 3, dan 4 dilakukan berurutan. Jika mereka, maka mereka akan menjadi substep keterampilan yang lebih baik, dan akan diagrammed sebagai berikut:
Selain itu, kami mencatat bahwa tujuan sikap dapat ditunjukkan sebagai berikut:
Informasi verbal ditunjukkan dengan menghubungkannya dengan keterampilan intelektual melalui sebuah garis dan sebuah segitiga yang berisi huruf V.
Keterampilan dalam menggunakan konvensi diagram ini akan membantu Anda memahami hubungan tersirat dari subskill dalam diagram analisis instruksional. Perintah untuk Belajar setiap keterampilan juga tersirat melalui urutan keterampilan.
Catat angka yang muncul di berbagai diagram bawahan keterampilan. Jangan menafsirkannya lebih berarti daripada yang mereka lakukan. Pada tahap ini dalam proses perancangan instruksional, angka-angka dalam kotak digunakan hanya sebagai steno metode untuk mengacu pada kotak; mereka tidak mewakili urutan di mana keterampilan diajarkan Dengan menggunakan angka-angka ini, kita bisa membahas hubungan antara kotak 7 dan kotak 5 tanpa menjelaskan keterampilan yang terlibat. Kita seharusnya tidak berpikir tentang bagaimana kita akan mengajarkan keterampilan ini, tapi lebih memastikan bahwa kita memiliki yang benar keterampilan termasuk dalam analisis kami. Pada tahap selanjutnya dalam proses perancangan, perlu menentukan urutan instruksional untuk keterampilan, dan Anda mungkin menginginkannya Beri nama baru keterampilan pada saat itu.
Mengapa proses analisis instruksional sangat penting untuk disain pengajaran? Ini adalah proses yang bisa digunakan perancang instruksional untuk mengidentifikasi ketrampilan itu dibutuhkan oleh siswa untuk mencapai tujuan terminal sekaligus untuk membantu mengecualikan keterampilan yang tidak perlu Ini mungkin tidak tampak sebagai argumen yang sangat kuat bila dipertimbangkan berdasarkan sasaran instruksional tertentu yang mungkin Anda pilih. Anda mungkin percaya bahwa Anda benar-benar mengetahui isi dan keterampilan yang dibutuhkan siswa bahwa jenis analisis ini tidak berguna. Yakinlah, bagaimanapun, itu sebagai Anda terlibat dalam berbagai proyek desain instruksional, Anda tidak dapat melakukannya seorang ahli materi pelajaran di semua bidang. Hal ini diperlukan untuk terlibat dalam proses analitik dari jenis ini dengan berbagai spesialis materi pelajaran untuk mengidentifikasi keterampilan kritis yang menghasilkan instruksi yang efisien dan efektif.
Analisis Tugas Kognitif
Ingat bahwa kita memperkenalkan topik analisis pekerjaan dan analisis tugas kerja di Bagian dua . Ada metodologi yang disebut cognitive task analysis (CTA) yang termasuk dalam konsep analisis pekerjaan dan analisis tugas kerja sesuai dengan diskusi kita dalam bab ini tentang mengidentifikasi keterampilan bawahan. Praktisi Kembangkan metode CTA karena mereka mengerti bahwa ada banyak mental proses yang terjadi di dalam kepala karyawan saat melakukan pekerjaan yang kompleks, dan sebagian besar pengolahan ini tidak dapat dideteksi dengan pengamatan sederhana karyawan yang melakukan tugasnya Beberapa tugas menantang mental bahkan mungkin dilakukan secara total dalam pikiran karyawan dan tidak menghasilkan apa-apa lebih dari satu baris kode komputer baru, atau pernyataan lisan seperti "Sisipkan jarum itu di sini!"
Praktisi awal CTA berada di bidang analisis faktor manusia dan ergonomi, namun praktiknya sekarang digunakan dalam analisis front-end dalam pembelajaran Desain. Hal ini terutama digunakan dalam teknologi pelatihan dan kinerja serta pengaturan desain lainnya Proses CTA meliputi observasi dan wawancara: observasi untuk menangkap dan mencatat prosedur kerja dan wawancara untuk menangkap dan catat pengetahuan konseptual yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan itu. Pengamatan dan Wawancara dilakukan dengan tenaga ahli yang diketahui tentang pekerjaan tersebut, dan pengamatannya dan wawancara terstruktur dan ketat.
Salah satu alasan pembahasan CTA ini adalah kesamaan antara keduanya dan Proses perancangan instruksional yang Anda pelajari dalam teks ini. Observasional dan Teknik analisis yang digunakan dalam CTA sering ditemukan pada analisis front-end, tujuan analisis, dan analisis keterampilan bawahan dalam desain instruksional (ID). Produk CTA adalah serangkaian tujuan, sub-tugas, dan tugas yang menjadi ciri keterampilan yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan, dan susunannya paling sering bersifat hirarkis atau kombinasi prosedural dan hierarkis, seperti yang dijelaskan dalam bab ini. Clark dkk. (2008) menyarankan bahwa produk CTA lainnya harus mencakup (1) deskripsi konteksnya di mana keterampilan akan dilakukan, bersama dengan notasi alat yang dibutuhkan untuk melakukan keterampilan; (2) pernyataan kinerja yang tepat; dan (3) deskripsi dari kriteria yang akan digunakan untuk menilai kinerja. Perhatikan bahwa di Bab Enam, Ini adalah tiga komponen yang sama dalam tiga bagian tujuan: kondisi, perilaku, dan kriteria. Karena tujuan CTA sama dengan yang di beberapa langkah pertama ID-yaitu, analisis pekerjaan, sasaran, analisis tujuan, keterampilan bawahan, dan kinerja Tujuan-mudah dipahami mengapa proses dan produk CTA dan ID sangat mirip.
CTA telah digunakan paling sering untuk menganalisis tugas kompleks di mana kinerja presisi diperlukan. Hasil CTA digunakan untuk memulai pengembangan berbagai jenis solusi pelatihan, mulai dari bantuan pekerjaan sederhana dan materi berbasis teks untuk belajar dan belajar e-learning instruktur. Karena CTA Bisa mahal dan memakan waktu, itu sering diterapkan dalam pengembangan Jenis pelatihan dan solusi faktor manusia lebih kompleks, seperti elektronik sistem pendukung kinerja, simulator pelatihan, mesin manusia dan manusia- desain antarmuka komputer, dan simulasi berbasis komputer dan sistem pakar. Pembaca yang tertarik dengan rincian lebih lanjut tentang CTA mungkin ingin memulai dengan bab ini dalam Handbook of Research tentang Komunikasi dan Teknologi Pendidikan oleh Clark et Al. (2008). Untuk lebih mendalam, Crandall, Klein, dan Hoffman (2006) adalah sumber yang bagus pada topik.
Prosedur analitik lain yang terkait dengan pembelajaran adalah analisis konsep pemetaan, yang merupakan representasi grafis tentang bagaimana pengetahuan konseptual terstruktur, dan bisa berbentuk diagram alir, hierarki, lingkaran, atau spider jaring, dengan garis yang menghubungkan konsep untuk menunjukkan hubungan mereka satu sama lain. Kami menyebut pemetaan konsep disini karena hubungannya dengan instruksional analisis, namun melihatnya lebih tepat untuk digunakan sebagai metode pembelajaran Mengajarkan keterampilan intelektual daripada sebagai metode analisis dalam desain instruksional. Model hyperlinking WebQuest yang populer adalah contoh bagus untuk menggunakan konsep pemetaan, atau anyaman, dalam aplikasi pengajaran dan pembelajaran. Novak (2009), bagaimanapun, memberi struktur pada pemetaan konsep pada tahun 1960an dan menjelaskan aplikasi di Indonesia teknologi kinerja manusia dalam tulisan baru-baru ini.
Keterampilan Awal
Proses analisis instruksional menyajikan fungsi penting lain yang belum dibahas: Ini membantu perancang mengidentifikasi dengan pasti apa yang seharusnya diketahui peserta didik Bisa melakukan sebelum mereka memulai instruksi, disebut keterampilan masuk karena peserta didik Harus sudah menguasai mereka untuk mempelajari keterampilan baru yang termasuk dalam petunjuk.
Prosedur yang digunakan untuk mengidentifikasi keterampilan masuk secara langsung berhubungan dengan bawahan proses analisis keterampilan. Anda tahu bahwa dengan analisis hirarkis Anda bertanya, "Apa Haruskah pelajar tahu untuk mempelajari keterampilan ini? "Jawaban untuk pertanyaan ini adalah satu atau lebih banyak keterampilan bawahan. Dengan setiap keterampilan bawahan berturut-turut, bagian bawah dari hierarki akan berisi keterampilan yang sangat mendasar.
Asumsikan Anda memiliki hirarki yang sangat berkembang yang mewakili array keterampilan yang dibutuhkan untuk mengambil pelajaran dari tingkat pemahaman yang paling dasar untuk tujuan instruksional Anda. Kemungkinan besar, bagaimanapun, bahwa pelajar Anda sudah memiliki beberapa keterampilan ini, sehingga tidak perlu mengajarkan semua keterampilan dalam perpanjangan hirarki. Untuk mengidentifikasi keterampilan masuk untuk instruksi Anda, periksa hierarki atau analisis klaster dan mengidentifikasi keterampilan yang dimiliki oleh sebagian besar peserta didik kuasai sebelum memulai instruksi anda Gambarlah garis putus-putus di atas keterampilan ini di bagan analisis. Keterampilan yang muncul di atas garis putus-putus adalah yang harus Anda lakukan Ajari instruksi Anda, sedangkan yang di bawah garis adalah keterampilan masuk.
Mengapa keterampilan masuk begitu penting? Mereka adalah blok bangunan awal untuk instruksi Anda, dasar dari mana peserta didik dapat mulai memperoleh keterampilan disajikan dalam instruksi anda Tanpa keterampilan ini, seorang pelajar akan memiliki waktu yang sangat sulit untuk belajar dari instruksi Anda. Keterampilan masuk adalah komponen kunci dalam proses perancangan. Contoh bagaimana keterampilan masuk dapat diidentifikasi melalui penggunaan hierarki muncul pada Gambar 4.5. Ini pada dasarnya adalah hirarki yang sama yang muncul pada Gambar 4.3; Namun, tiga keterampilan lagi telah ditambahkan ke dalam bagan analisis. Garis putus-putus telah ditarik melintasi halaman yang menunjukkan bahwa semua Keterampilan di atas garis akan diajarkan dalam bahan ajar. Semua keterampilan tercantum di bawah garis diasumsikan keterampilan sudah dicapai oleh siswa sebelumnya mulai instruksi
Setiap keterampilan di bawah garis diturunkan secara langsung dari keterampilan yang lebih tinggi sudah muncul di bagan analisis instruksional, diturunkan dengan mengajukan pertanyaan, "Apa yang harus dipelajari peserta didik untuk mempelajari keterampilan ini?" Perhatikan bahwa bahkan keterampilan masuk yang diidentifikasi pada Gambar 4.5 memiliki hubungan hierarkis satu sama lain. Keterampilan turunan (skill yang harus dikuasai agar bisa belajar skill 1 dan 7, tapi Tidak diajarkan dalam instruksi ini) mencakup kemampuan untuk menafsirkan keseluruhan dan desimal angka. Siswa harus menguasai keterampilan ini sebelum mereka memulai instruksi membaca skala.
Deskripsi sejauh ini menghubungkan keterampilan masuk ke analisis instruksional hirarkis. Begitu pula jika pendekatan cluster atau kombinasi digunakan di mana bawahan keterampilan dan pengetahuan diidentifikasi, maka proses identifikasi dapat dilanjutkan sampai keterampilan dasar diidentifikasi dan ditunjukkan oleh garis putus-putus.
Anda harus sadar bahwa contoh yang kita gunakan agak jelas menggambarkan spesifik keterampilan yang berhubungan dengan tujuan instruksional tertentu. Ada beberapa deskriptor peserta didik yang dapat dianggap sebagai keterampilan masuk untuk unit instruksional tertentu atau sebagai gambaran populasi sasaran secara umum. Pertimbangkan pertanyaan siswa tingkat membaca.
Jelas bahwa bahan ajar biasanya sangat bergantung pada kemampuan membaca siswa; siswa harus memiliki beberapa tingkat minimum membaca kemampuan untuk terlibat dengan materi. Apakah spesifikasi tingkat membaca deskripsi karakteristik umum peserta didik, atau apakah itu keterampilan entri yang spesifik yang harus dimiliki siswa sebelum memulai pengajaran? Argumen yang jelas bisa dibuat di kedua sisi masalah ini. Anda mungkin bisa mengidentifikasi keterampilan lain itu akan menghasilkan masalah yang sama.
Teknik yang mungkin untuk mengklasifikasikan kemampuan semacam itu dengan tepat adalah menentukannya apakah itu layak atau layak untuk menguji pelajar untuk keterampilan tertentu sebelumnya untuk memungkinkan pelajar untuk memulai instruksi. Jika jawaban untuk pertanyaan itu adalah, "Ya, perlu waktu untuk menguji pelajar," maka Anda mungkin sudah mendefinisikan perilaku entri tertentu. Jika, bagaimanapun, tampaknya tidak tepat untuk menguji keterampilan dari pelajar (seperti memberi tes membaca) sebelum instruksi, maka faktor Anda telah diidentifikasi mungkin lebih baik diklasifikasikan sebagai karakteristik umum peserta didik untuk siapa unit ini dimaksudkan.
 Bagaimana Anda mengidentifikasi keterampilan entri khusus untuk materi Anda tergantung di mana Anda berhenti saat melakukan analisis instruksional. Jika Anda hanya mengidentifikasi Tugas dan keterampilan yang Anda rencanakan untuk disertakan dalam materi instruksional .
Anda harus mengambil ketrampilan terendah dalam hierarki dan menentukan keterampilan bawahan yang terkait dengannya. Ini tercantum pada analisis instruksional Anda bagan di bawah garis yang membedakannya dengan jelas dari keterampilan bawahan termasuk dalam bahan ajar. Jika analisis keterampilan bawahan Anda Sudah dilakukan untuk mengidentifikasi keterampilan dasar tingkat rendah, maka seharusnya mungkin bagi Anda hanya untuk menggambar garis putus-putus melalui grafik di atas keterampilan itu bahwa Anda menganggap sebagian besar peserta didik telah memperolehnya.
Perhatikan juga bahwa saat mengembangkan bahan ajar tentang topik umum Minat yang menekankan tujuan informasi, terkadang ada yang nampaknya tidak keterampilan masuk yang dibutuhkan selain kemampuan membaca materi dan menggunakan ketrampilan penalaran yang tepat untuk mencapai tujuan instruksional. Jika Anda telah mengidentifikasi hal tersebut sebuah area, maka sangat sah untuk menunjukkan bahwa walaupun materinya ditujukan untuk kelompok peserta didik tertentu, tidak ada keterampilan masuk khusus yang diperlukan untuk memulai instruksi
Keanggunan Keterampilan Masuk
Identifikasi keterampilan masuk adalah salah satu titik bahaya sebenarnya dalam pembelajaran Proses desain, karena perancang membuat asumsi tentang keduanya apa itu peserta didik harus tahu dan seharusnya sudah tahu. Jelas, perancang bisa berbuat salah salah satu dari dua arah, dan masing-masing memiliki konsekuensi. Misalnya dengan kurikulum Materi yang dirancang hanya untuk siswa berbakat, analisis keterampilan bawahan bertitik Keterampilan memisahkan garis yang harus diajarkan dari keterampilan diasumsikan diketahui akan ditempatkan relatif tinggi pada grafik, menunjukkan bahwa peserta didik sudah cukup menguasai dari keterampilan yang dijelaskan pada grafik. Bila diasumsikan kemampuan masuk belum Dikuasai oleh mayoritas populasi sasaran, bahan pelajarannya kalah efektivitas mereka untuk sejumlah besar peserta didik. Tanpa persiapan yang memadai Dalam keterampilan masuk, upaya peserta didik tidak efisien dan membuat frustrasi, dan materi tidak efektif.
 Kesalahan kedua terjadi ketika garis putus-putus ditarik terlalu rendah pada analisis instruksional, dengan asumsi bahwa peserta didik memiliki sedikit atau tidak sama sekali keterampilan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan instruksional Kesalahan jenis ini serius menekan motivasi dan mahal baik dalam hal pengembangan bahan ajar yang tidak terlalu dibutuhkan oleh peserta didik dan dalam hal waktu yang dibutuhkan bagi peserta didik untuk mempelajari keterampilan yang mereka miliki sudah menguasai.
 Perlu dicatat bahwa perancang membuat seperangkat asumsi pada awal ini titik tentang peserta didik yang akan menggunakan instruksi. Jika waktu tersedia, sebuah uji coba sampel anggota kelompok harus diuji dan diwawancarai untuk menentukan apakah sebagian besar Dari mereka memiliki keterampilan masuk yang berasal dari analisis subskill. Prosedur untuk Melakukan hal ini dibahas di Bab Dua Puluh Dua Belas. Jika waktu tidak mengizinkan Ini, maka asumsi harus diuji di lain waktu dalam proses pembangunan. Menunda verifikasi keterampilan masuk ini, bagaimanapun, dapat menyebabkan situasi di mana Banyak perkembangan telah terjadi secara tidak benar karena ketidakcocokan antara keduanya pelajar dan instruksinya.
Jika keselarasan antara keterampilan masuk peserta didik dan keterampilan yang direncanakan Untuk dimasukkan dalam instruksi tidak cocok, maka pertanyaan mendasar Harus dijawab: Apakah konten spesifik diajarkan, atau populasi sasaran? sedang diajar? Jika itu adalah yang pertama, maka sedikit atau tidak ada perubahan yang diperlukan dalam entri keterampilan. Seseorang hanya terus mencari sampai sekelompok peserta didik dengan entri yang tepat keterampilan ditemukan Instruksi anda adalah untuk mereka! Jika tujuan Anda adalah mengajarkan yang spesifik kelompok peserta didik, bagaimanapun, maka instruksi tersebut harus dimodifikasi dengan penambahan atau pengurangan instruksi agar sesuai dengan keterampilan masuk yang ada dalam grup. Tidak ada jawaban yang benar untuk dilema ini. Setiap situasi harus dipertimbangkan berdasarkan penilaian kebutuhan yang menghasilkan terciptanya tujuan instruksional.
Dengan cara yang sama, sering ditemukan bahwa hanya beberapa pembelajar yang dimaksud memiliki keterampilan masuk Akomodasi apa yang bisa dibuat untuk situasi ini? Mungkin mungkin memiliki beberapa "titik awal" di dalam instruksi, dan peserta didik ' skor pada tes keterampilan masuk dapat digunakan untuk menempatkan mereka di awal yang tepat titik. Atau solusinya lagi mungkin instruksi itu dirancang untuk pelajar dengan keterampilan masuk tertentu. Mereka yang tidak memiliki keterampilan ini harus menguasai mereka di tempat lain sebelum memulai instruksi. Biasanya tidak ada jawaban mudah untuk situasi yang terlalu umum ini.
Contoh
Pada bagian ini, kami menggambarkan prosedur analisis kombinasi untuk psikomotor keterampilan dan sikap. Dalam Studi Kasus berikut, ada dua contoh prosedur analisis kombinasi untuk keterampilan intelektual dan informasi lisan.
Analisis Keterampilan Subordinatif Keterampilan Psikomotor
Tujuan Instruksional Putt bola golf ke dalam cangkir.
Keterampilan psikomotor biasanya membutuhkan kombinasi intelektual dan motor keterampilan, dan keterampilan intelektual sering membutuhkan informasi verbal pendukung. Itu Prosedur kronologis yang harus diikuti dalam meletakkan bola golf diilustrasikan pada Gambar 3.2 (halaman 55). Pada titik ini, kita harus melanjutkan analisis instruksional untuk mengidentifikasi keterampilan bawahan dan informasi yang dibutuhkan untuk melakukan setiap langkah yang telah diidentifikasi sebelumnya. Sebagai ilustrasi, pertama-tama kita menganalisis keterampilan bawahan yang dibutuhkan untuk tampil Langkah 1: Rencanakan stroke yang dibutuhkan untuk memasukkan bola ke dalam cangkir (Gambar 4.6).
 Perhatikan dalam diagram bahwa keterampilan bawahan yang dibutuhkan untuk merencanakan stroke Semuanya adalah keterampilan intelektual - komponen psikologis dari keterampilan psikomotor. Komponen motor terjadi saat pegolf menerjemahkan rencana ke dalam tindakan. Mengamati seseorang, desainer bisa dengan mudah melihat bagian motornya keterampilan, sedangkan bagian mental tetap tersembunyi. Semua aktivitas mental dibutuhkan rencanakan stroke harus selesai sebelum pindah ke langkah 2: Asumsikan sikap berdasarkan rencananya.
Langkah pertama dalam keterampilan psikomotor ini adalah keterampilan intelektual, jadi kita aplikasikan prosedur analisis hirarkis. Menanggapi pertanyaan, "Apa yang harus siswa bisa lakukan untuk belajar bagaimana merencanakan stroke? "kami menentukan rencananya Terdiri dari prediksi arah bola yang harus dipukul dan jumlah kekuatan yang harus dipukulnya. Pada gilirannya, arah putt bergantung pada mengetahui lintasan bola yang dibutuhkan, yang pada gilirannya bergantung pada pengetahuan tentang "Lahan dari tanah." Analisis serupa telah digunakan untuk mengidentifikasi keterampilan bawahan terkait dengan menentukan seberapa keras memukul bola.
Dua hal penting dalam contoh ini: Pertama, langkah 1 dalam tujuan - yaitu, membuat rencana tentang bagaimana memukul bola-adalah langkah yang tidak bisa diajarkan sampai siswa telah belajar tentang arah dan kekuatan dan bawahan mereka yang menyertainya. keterampilan. Keterampilan ini kemudian bisa digabungkan menjadi langkah membuat rencana.
Kedua, memeriksa empat subskill di bawah langkah 4, Anda harus kembali pergi melalui proses menentukan apakah masing-masing adalah keterampilan intelektual, dan jika Jadi, apakah analisis hirarkis lebih lanjut diperlukan. Langkah 4.1, 4.3, 4.4, dan 4.5 adalah keterampilan motorik yang seharusnya tidak memerlukan analisis lebih lanjut. Langkah 4.2 adalah keterampilan intelektual, Namun, dan memerlukan penggunaan rencana serta semua keterampilan bawahan yang menyertainya yang tercantum pada langkah 1. Tidak perlu mengulangi semua keterampilan ini dalam tabel. Ketergantungan ini dapat dicatat dengan hanya menempatkan 1 dalam lingkaran di bawah langkah 4.2 sampai menunjukkan bahwa semua langkah 1 harus dipelajari sebelum langkah ini.

Analisis Keterampilan Subordinatif dari Tujuan Attitudinal
Contoh analisis tujuan analisis berikut ini menggambarkan satu teknik yang bisa Anda lakukan gunakan untuk mengembangkan analisis instruksional untuk tujuan semacam itu. Dimulai dengan pernyataan tujuan, keterampilan dan informasi yang diperlukan diidentifikasi dalam urutan langkah demi langkah.
Tujuan Instruksional Pembelajar akan memilih untuk memaksimalkan keamanan pribadi saat tinggal di hotel.
Pilihan untuk mengikuti tindakan pengamanan saat didaftarkan di hotel membutuhkan bahwa pelajar mengetahui tentang potensi bahaya pada diri mereka sendiri, tahu prosedurnya ikuti, dan kemudian ikuti prosedurnya. Tujuan instruksional sikap diperkenalkan di Bab Tiga, dan analisis pendahuluan dan keputusan urutan diilustrasikan pada Gambar 3.3 (hal 56).
Untuk melanjutkan analisis, kami hanya fokus pada bahaya kebakaran. Prosedur apa Haruskah penghuni hotel mengikuti untuk meminimalkan risiko dilukai saat berada di hotel api? Kami mengidentifikasi prosedur yang berisi tiga langkah dasar, ditempatkan secara berurutan yang sesuai dengan urutan kejadian alam.
1.      Tanyakan tentang peraturan, prosedur, dan tindakan pencegahan kebakaran hotel saat memeriksa ke hotel.
2.      Periksa fasilitas darurat di ruangan yang ditempati.
3.      Periksa pintu darurat yang terdekat dengan ruangan.
Langkah selanjutnya adalah menganalisis informasi dan keterampilan yang dibutuhkan masing-masing individu selesaikan setiap langkah Ingatlah bahwa satu komponen penting dalam membentuk sebuah sikap, dan dengan demikian meningkatkan kemungkinan orang-orang akan menunjukkan perilaku yang diinginkan, adalah memberi mereka informasi tentang mengapa mereka harus bertindak cara tertentu Dalam analisis Anda tentang tugas-tugas ini, pastikan untuk memasukkan alasan masing-masing harus dilakukan.
Mulailah dengan tugas pertama. Mengapa seseorang meminta informasi keselamatan kebakaran? Alasannya mencakup fakta tentang kematian dan luka akibat kebakaran di hotel. Fakta tentang frekuensi kebakaran hotel, bahaya tambahan di hotel bertingkat tinggi, atau mungkin jumlah orang yang terbunuh atau terluka setiap tahun dalam kebakaran hotel dapat disertakan. Itu Tujuan dari informasi ini adalah untuk mendapatkan perhatian mereka dan membantu mereka menyadari bahwa mereka, juga beresiko saat didaftarkan di hotel.
Apalagi mereka harus bisa menilai apakah keselamatan hotel tersebut dilaporkan tindakan pencegahan dan prosedur yang memadai, yang berarti mereka membutuhkan informasi tentang tindakan pencegahan kebakaran rutin yang dapat mereka temukan di hotel. Demikian, tugas pertama dalam prosedur kami mencakup informasi pendukung yang menjelaskan mengapa pelanggan harus mengumpulkan informasi keselamatan kebakaran tentang hotel dan apa yang seharusnya mereka lakukan berharap bisa menemukannya Keterampilan bawahan pertama dan informasi pendukungnya bisa jadi diagrammed sebagai berikut:
Jika kita mengamati pelanggan hotel menanyakan prosedur keselamatan kebakaran memeriksa ke dalam hotel, kita bisa menyimpulkan dengan benar bahwa mereka memilih untuk memaksimalkan keamanan pribadi mereka saat menginap di hotel (sikap asli kami tujuan).
Dari sini, pindah ke keterampilan bawahan kedua: Periksa fasilitas darurat di ruangan yang ditugaskan Sekali lagi, mereka harus tahu mengapa mereka harus melakukan ini dan apa yang mereka lakukan Bisa berharap untuk menemukan, yang bisa digambarkan sebagai berikut:
Ketrampilan bawahan ketiga terkait dengan mengapa tamu hotel harus memeriksa pintu keluar darurat di dekat kamar mereka yang ditugaskan dan apa yang harus mereka harapkan, seperti ditunjukkan selanjutnya:
Analisis lengkap untuk keterampilan pencegahan kebakaran tampak pada Gambar 4.7. Melihat Dalam diagram itu keterampilan bawahan utama ditempatkan secara horisontal. Blok dari informasi yang diperlukan untuk melakukan setiap langkah dalam prosedur terhubung ke kotak yang sesuai menggunakan simbol ini:
Setelah menyelesaikan analisis keterampilan 2 dan 3, akan lebih bijaksana untuk memeriksa masing-masing menetapkan keterampilan bawahan untuk menentukan apakah mereka terkait dengan tujuan sikap asli. Jika pelanggan melakukan tugas seperti yang ditentukan, dapatkah kita menyimpulkannya bahwa mereka menunjukkan sikap untuk memaksimalkan keamanan pribadi mereka sementara tinggal di hotel? Jika jawabannya ya, maka kita belum menyimpang dari kita tujuan asli
Identifikasi Keterampilan Masuk
Pertimbangkan analisis instruksional psikomotor untuk memasukkan bola golf, ilustrasi sebelumnya pada Gambar 4.6. Mengidentifikasi keterampilan masuk yang sesuai tergantung pada tingkat ketrampilan saat ini dari pelajar. Kami mungkin tidak akan mengidentifikasi keterampilan masuk "Weekend duffers" yang senang bermain golf tanpa sepengetahuan dan skill di luar bagaimana untuk mencetak permainan dan pendekatan berturut - turut menempatkan bola ke dalam cangkir. Untuk pegolf berpengalaman dengan keterampilan, bagaimanapun, kita bisa menempatkan keterampilan masuk garis antara keterampilan bawahan untuk langkah 1 (subskill 1.1 sampai 1.7) dan main Langkah 1. Satu-satunya cara untuk mengetahui dengan pasti adalah mengamati sampel peserta didik dari sasaran kelompok benar-benar meletakkan bola.
Sekarang, tinjau kembali analisis instruksional sikap pada keamanan pribadi di sebuah hotel termasuk dalam Gambar 4.7. Di mana Anda akan menempatkan garis keterampilan masuk? Asumsikan bahwa semua langkah dalam prosedur, dan informasi yang diperlukan untuk setiap langkah, diperlukan; Oleh karena itu, tidak perlu memasukkan garis keterampilan masuk dalam diagram.
STUDI KASUS : PELATIHAN GRUP KEPEMIMPINAN
Kami lanjutkan dengan studi kasus pelatihan kepemimpinan kelompok untuk kelompok pemimpin. Hanya bagian dari kerja analisis tujuan yang dimulai di Bab Tiga yang terpilih untuk analisis subskill yang lebih rinci bekerja di sini, karena analisis lengkap semuanya Langkah-langkah dalam tujuan akan menjadi terlalu panjang dan berat untuk dimasukkan ke dalam teks ini. Kami menggambarkan analisis subskill untuk kedua keterampilan intelektual dan informasi lisan.
Analisis Hirarkis terhadap Kecakapan Intelektual
Tujuan Instruksional Menunjukkan keterampilan kepemimpinan kelompok diskusi yang efektif. Pendekatan hirarkis digunakan untuk melanjutkan analisis instruksional langkah 6 dari analisis tujuan yang ditunjukkan pada Gambar 3.7 (hal 58). Tiga pemimpin diskusi utama
Tindakan telah diidentifikasi sebagai perilaku yang membantu dalam mengelola kelompok koperasi interaksi-menimbulkan perilaku anggota koperasi, meredakan perilaku pemblokiran anggota, dan mengurangi stres kelompok selama pertemuan. Ketiga tindakan ini diilustrasikan dan diurutkan dalam diagram berikut. Karena mereka tidak berhubungan secara hierarkis, disana adalah beberapa garis lintang dalam bagaimana mereka diurutkan. Enggan bekerja sama dengan anggota koperasi terdaftar pertama karena ini adalah yang paling mudah dan positif dari tiga tindakan; Meminimalisir perilaku pemblokiran yang tercatat kedua karena merupakan pelengkap tindakan positif, dan meringankan stres kelompok yang tertera terakhir. Dalam skill superordinate, skill 6, pelajar mengintegrasikan tiga keterampilan bawahan untuk mengelola interaksi kelompok kooperatif. Kami melanjutkan analisis hirarkis dengan mengidentifikasi ketrampilan bawahan masing-masing
keterampilan manajemen, dengan fokus pada satu tugas pada satu waktu. Dimulai dengan yang pertama, untuk Pemimpin untuk menimbulkan perilaku kooperatif, mereka harus bisa mengenali strategi untuk melahirkan perilaku kooperatif dan mengenali koperasi anggota kelompok tindakan. Lebih khusus lagi, mereka harus bisa memberi nama strategi untuk mendorong interaksi kooperatif dan tindakan anggota nama yang memfasilitasi interaksi kooperatif.
Analisis Cluster untuk Keterampilan Bimbingan Informasi Verbal
Keterampilan bawahan Nama tindakan anggota yang memfasilitasi interaksi kooperatif, dan beri nama tindakan anggota yang menghalangi atau menghambat interaksi kooperatif.
Meski beberapa tujuan instruksional adalah tugas informasi verbal, lebih sering kita Harus melakukan analisis terhadap keterampilan bawaan informasi verbal yang tertanam dalam hierarki keterampilan intelektual. Tabel 4.1 berisi analisis cluster untuk dua dari informasi verbal keterampilan bawahan tugas dalam mengelola koperasi analisis kelompok diskusi digambarkan pada Gambar 4.8. Informasi verbal untuk subskill 6.1, beri nama anggota tindakan yang memfasilitasi interaksi kooperatif, dan subskill 6.6, tindakan anggota nama yang menghalangi atau menghambat interaksi kooperatif, disertakan. Tugas 6.1 berisi satu kumpulan informasi: tindakan spontan saat diperkenalkan dan bereaksi terhadap gagasan baru. Tugas 6.6 berisi dua kelompok informasi: tindakan spontan, tidak terencana dan tindakan terencana dan terarah. Masing-masing dari tiga kelompok
memiliki kolom sendiri pada Tabel 4.1.
Identifikasi Keterampilan Masuk
Selanjutnya, pertimbangkan analisis instruksional hierarkis dalam diskusi kelompok terdepan pada Gambar 4.8. Tugas mana yang menurut Anda harus diberi label keterampilan masuk untuk siswa tingkat master Untuk kelompok heterogen ini, dua keterampilan pada Gambar 4.9.
Ingat kembali populasi sasaran memiliki berbagai jurusan sarjana; kebanyakan hanya memiliki pelatihan sepintas dalam keterampilan diskusi kelompok, dan sedikit yang memiliki pengalaman melayani kursi untuk berbagai panitia di tempat kerja dan di masyarakat. Mungkin saja itu semua keterampilan di bawah 6,5, 6,10, dan 6,15 dapat diklasifikasikan sebagai keterampilan masuk; Namun, perancang instruksional harus memeriksa asumsi ini dengan seksama sebelum melanjutkan untuk keterampilan tingkat tinggi ini. Haruskah semua keterampilan di bawah ketiganya diklasifikasikan.


Pertanyaan : 
Pendekatan hirarkis / Analisis hierarkis digunakan untuk menganalisis langkah-langkah individu dalam tujuan analisis yang tergolong keterampilan intelektual atau psikomotor. Untuk mengerti Pendekatan hirarkis, mempertimbangkan tujuan instruksional yang mengharuskan siswa untuk membenarkan rekomendasi bahwa bagian tertentu dari real estat harus dibeli pada waktu tertentu. Pertanyaan saya dapatkah keterampilan awal intelektual atau psikomotor dianalisis dengan menggunakan pendekatan lain, selain pendekatan hirarkis? jelaskan pendapat anda!