Proses instruksional atau
pengajaran adalah kegiatan manusia yang bertujuan untuk membantu orang dalam
belajar. Walaupun pembelajaran dapat terjadi tanpa adanya pengajaran, pengaruh
dari pengajaran itu keseringan bermanfaat dan biasanya mudah untuk diamati.
Ketika pengajaran dibentuk untuk mencapai sebuah tujuan pada pembelajaran, bisa
saja tercapai atau bisa juga tidak tercapai.
Gagne
dan Briggs (1978:19) mengemukakan pengertian instruksional
adalah cara yang dipakai
pengajar, ahli kurikulum, perancang bahan, dan
lain-lain yang bertujuan untuk mengembangkan rencana yang terorganisasikan guna
keperluan belajar, merumuskan sistem instruksional sebagai kombinasi yang unik
dan pengaturan unsur-unsur dalam proses instruksional yang dirancang untuk
suatu tujuan yang disepakati bersama, guna memecahkan masalah belajar. Dick
& Carey (1985) mendefinisikan ‘desain’ sebagai pola atau rancangan;
sedangkan instruksional berarti pengajaran yang merupakan suatu kegiatan
tempat pembelajar mengalami perubahan perilaku.
Proses instruksional atau
pengajaran secara tradisional telah melibatkan instruktur, pembelajar, dan
buku teks. Isi yang
dipelajari terkandung dalam teks, dan
merupakan tanggung jawab instruktur untuk “mengajarkan” isinya kepada
para siswa. Pengajaran dapat berarti memasukkan isi teks ke dalam kepala siswa
dengan sebuah cara sehingga mereka dapat mengingat kembali informasi ketika
tes. Dengan model ini, cara memperbaiki pengajaran yakni dengan
memperbaiki instrukturnya (yakni, mewajibkan instruktur untuk mempelajari lebih
banyak ilmu dan lebih banyak metode untuk diteruskan kepada
para siswa) .
Pandangan
yang lebih moderen tentang pengajaran
yakni bahwa pengajaran merupakan proses sistematis yang setiap komponennya penting
bagi pembelajaran yang sukses. Sudut pandang ini biasanya dirujuk sebagai sudut
pandang system, dan para pendukung pandangan ini biasanya menggunakan pendekatan
system untuk mendesain pengajaran.
Konsep Desain Instruksional
1.
Pendekatan System
Kegiatan Instruksional dipandang sebagai suatu system.
Istilah system merujuk pada benda, peristiwa, kejadian, atau cara yang
terorganisir yang terdiri bagian-bagian yang lebih kecil dan seluruh bagian
tersebut secara bersama-sama berfungsi untuk mencapai tujuan tertentu.
Selanjutnya pendekatan system yaitu suatu suatu urutan pemecahan masalah dengan
urutan langkah masalah dipahami terlebih dahulu, mempertimbangkan berbagai
solusi alternative, dan memilih solusi terbaik. Demikian pula dengan Tunas
mengemukakan pandangannya tentang pendekatan system sebagai suatu pendekatan
pemecahan masalah yang dilakukan secara sistematis dan menyeluruh (sistemik).
Dalam hal ini yang dimaksud dengan sistemik adalah suatu analisis dan evaluasi
yang memperhatikan seluruh faktor yang berhubungan dengan masalah itu termasuk
keterkaitan antar faktor yang bersangkutan.
Penggunaan pendekatan system dalam teknologi instruksional hingga kini
berkembang terus. Selain komponen pengajar, peserta didik, fasilitas, kegiatan
instruksional juga terdiri dari subsistem diantaranya adalah tujuan
instruksional, tes, strategi instruksional, bahan instruksional, dan
evaluasi. Oleh karena kompleksnya yang terkait dalam kegiatan instruksional,
maka untuk memecahkan masalah perlu menguji setiap komponen tersebut melalui
analisis system.
2.
Teori Yang Mendasari Desain Instruksional
Sistem instruksional adalah semua materi pelajaran dan
metode yang telah diuji dalam praktek yang dipersiapkan untuk mencapai tujuan
dalam keadaan senyatanya (Baker; 1971, p:16). Sedangkan Briggs mengemukakan
bahwa desain instruksional adalah keseluruhan proses analisis kebutuhan dan
tujuan belajar serta pengembangan teknik mengajar dan materi pengajarannya
untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Termasuk di dalamnya adalah pengembangan
paket pelajaran, kegiatan mengajar, uji coba, revisi, dan kegiatan mengevaluasi
hasil belajar (Briggs, 1979, p. 20). Lebih lanjut dikatakan bahwa disain sistem
instruksional ialah pendekatan secara sistematis dalam perencanaan dan
pengembangan sarana serta alat untuk mencapai kebutuhan dan tujuan
instruksional. Semua komponen sistem ini (tujuan, materi, media, alat,
evaluasi) dalam hubungannya satu sama lain dipandang sebagai kesatuan yang
teratur sistematis. Komponen-komponen tersebut terlebih dulu diuji coba
efektifitasnya sebelum disebarluaskan penggunaannya.
Desain Instruksional adalah suatu proses sistematis,
efektif, dan efisien dalam menciptakan system instruksional untuk memecahkan
masalah belajar atau peningkatan kinerja peserta didik melalui serangkaian
kegiatan pengidentifikasian masalah, pengembangan, dan pengevaluasian. Beberapa
istilah juga berkaitan erat dengan desain instruksional antara lain learning, menurut Robert M.
Gagne bahwa belajar merupakan hasil, bukan proses. Hasil tersebut
bekenaan dengan perubahan pada kapabilitas manusia yang secara tetap terjadi
sepanjang periode tertentu dan bukan karena kebetulan sebagai akibat dari
proses perkembangan diri.
Hamrenus dalam Suparman menyatakan bahwa desain
instruksional merupakan proses sistematik untuk memungkinkan tujuan umum
dicapai melalui proses belajar yang efektif. Proses yang sistematik itu dimulai
dengan tujuan umum. Pendapat lain menyatakan bahwa tujuan akhir dari
desain instruksional adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Sedangkan Rothwel dan Kazamas mengemukan bahwa desain instruksional tidak
sekadar menciptakan instrument atau alat tetapi terkait dengan konsep lebih
luas tentang bagaimana menganalisa masalah kinerja manusia secara sistematik,
pengidentifikasian akar penyebab masalah-masalah tersebut, pertimbangan
berbagai solusi yang sesuai dengan akar permasalahan itu, dan pelaksanaan
pemecahan masalah dengan cara-cara yang di rancang untuk meminimalisir akibat
yang tidak diharapkan dari tindakan perbaikan.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas mengarah pada
satu tujuan yang sama yakni mencari suatu solusi dari beberapa permasalah dalam
rangka menciptakan satu tindakan perbaikan pembelajaran yang dilakukan secara
sistematis, efektif, efisien yang diawali dari menganalisis tujuan pembelajaran
dan di akhiri dengan evaluasi.
Model Pengembangan Desain Instruksional.
Ada banyak Model desain instruksional yang berkembang dalam dunia
pendidikan dewasa ini, misalnya SAFE (System Approach For Education), Michigan
State University Instructional Systems Development Model, Project MINERVA
Instructional System Design, Teaching Research System, Banathy Instructional
Development System, , Dick & Carey model, Kemp model , Three Phase Design
Model, The 4CID Model, ARCS Model, dan banyak lagi model instruksional lainnya.
Perkembangannya juga beragam sesuai dengan kondisi dan tujuan desain
instruksional tersebut diperuntukkan, yang jelas bahwa setiap model dimaksudkan
untuk menghasilkan suatu system instruksional yang efektif dan efisien dalam
memfasilitasi pencapaian tujuan instruksional. Pada dasarnya model instruksional
yang ditawarkan memiliki prosedur yang hampir sama antara satu dengan yang
lain, atau bahkan mengkombinasikan dari berbagai model yang sudah ada untuk
kemudian diaplikasikan kedalam lingkungan pembelajaran yang kita hadapi.
kegiatan pokok yang dilakukan dalam pengembangan
desain pengajaran meliputi hal sebagai berikut:
a)
Menentukan hasil belajar dalam arti prestasi siswa
yang bisa diamati
b)
Mengidentifikasi karakteristik siswa yang akan
belajar.
c)
Berdasarkan nomor a dan b tersebut, memilih dan menyelenggarakan
kegiatan belajar dan mengajar bagi siswa.
d)
Menentukan media untuk kegiatan tersebut.
e) Menentukan situasi dan kondisi
dengan cara mengamati siswa yang telah
dianggap cukup.
f) Menentukan kriteria untuk menentukan seberapa prestasi
siswa telah dianggap cukup.
g)
Memilih metode
yang tepat untuk menilai
kemampuan siswa untuk mendemonstrasikan tingkah
laku seperti tersebut pada angka a.
h)
Menentukan metode untuk memonitor respon siswa sewaktu
berada dalam proses pengajaran dan sewaktu dievaluasi.
i)
Mengadakan perbaikan yang diperlukan
dalam kegiatan belajar-mengajar bila ternyata respon siswa
tidak sesuai dengan hasil yang telah ditentukan.
Kesembilan langkah dasar tersebut menggambarkan
prosedur yang digunakan untuk merancang pengajaran. Perangkat prosedur ini
dinamakan rancangan sistem karena tersusun atas komponen-komponen yang saling
berinteraksi, masing-masing memiliki masukan dan. keluarannya, dan secara
bersama-sama membuahkan hasil yang ditetapkan. sebelumnya. Suatu sistem juga
mengumpulkan keterangan tentang keampuhan suatu proses pembelajaran . sehingga
produk akhirnya dapat diubah sampai mencapai taraf mutu yang
diinginkannya. Pada waktu materi pengajaran masih dikembangkan, data-data
dikumpulkan dan materi direvisi selaras adanya data untuk menjadikannya
seefektif dan seefisien mungkin.
Permasalahan :
Kita memahami
bahwa suatu sistem terdiri atas sejumlah komponen atau unsur yang saling
berkaitan dan masing-masing memiliki fungsi mencapai tujuan dari system tersebut.
Pada konteks sistem instruksional, bagaimana jika salah satu komponen tidak
tersedia misalnya fasilitas, apakah seorang pengajar masih dapat mengupayakan
kegiatan pembelajaran yang efektif dan efisien?
Referensi :
Keterbatasan fasilitas tidak akan menghalangi guru dalam mengupayakan pembelajaran efektif dan efisien jika guru mampu melakukan inovasi dlm pembelajaran. Pemikiran kreatif dari guru dibutuhkan untuk mengatasi terbatasnya fasilitas. Misalnya di daerah terpencil yang tidak dialiri listrik dan bisa menggunakan LCD dpt diatasi dg kreativitas guru. Guru yg kreatif dan inovatif akan menciptakan proyektor tanpa listrik utk pembelajaran. Kekurangan/keterbatasan bukanlah penghalang namun dpt menjadi kesempatan besar dalam berinovasi.
BalasHapusmemang benar suatu sistem terdiri atas sejumlah komponen atau unsur yang saling berkaitan dan masing-masing memiliki fungsi mencapai tujuan dari system tersebut. namun keterbatasan fasilitas bukanlah halangan dalam menyampaikan pembelajaran hingga tercapai pembelajaran yang efektif dan efisien. gru harus di bekali kreativitas sehingga seminim apapun fasilitas yang ada,pembelajaran tetap ahrus berjalan sebagai mana mestinya. sebagai contoh,pada materi yang memerlukan prktek langsung/praktikum,namun di sekolah tidak tersedia alat dan bahan praktikum yang memdai,guru harus bisa menyiasati penyampaian materi tersebut menggunakan alat dan bahan yang ada di sekitar.
BalasHapusKeterbatasan pada fasilitas memang menjadi salah satu penghambat dalam kegiatan pembelajaran. Namun, hal ini dapat ditanggulangi dengan melihat potensi lain yang bisa dimanfaatkan oleh guru sehingga dapat mewujudkan kegiatan pembelajaran yang efektif dan efisien sebagaimana mestinya. contohnya: Jika di suatu sekolah memiliki fasilitas labor MIPA yang tidak memadai, sedangkan pada matapelajaran kimia membutuhkan praktikum. Disatu sisi lain, disekolah memiliki fasilitas lab komputer yang memadai namun jarang digunakan. Guru dapat meminimalisir dampak yang terjadi dengan, mengupayakan terlebih dahulu praktikum tetap terlaksana dengan menggunakan alat dan bahan yang tersedia atau yang berasal dari kehidupan sehari-hari contohnya pada materi asam basa bisa menggunakan indikator alam. Kemudian, untuk praktikum yang tidak terlaksana seperti contohnya titrasi asam-basa, guru dapat menggunakan fasilitas komputer dengan menayangkan video-video contoh praktikum titrasi asam-basa, kemudian mengajak siswa melaksanakan praktikum titrasi asam-basa menggunakan lab. virtual. Sehingga pemahaman siswa tentang pokok bahasan dapat terpenuhi dan meminimalisir kesalahpahaman konsep jika tidak dilaksanakannya praktikum.
BalasHapusjangan menjadikan fasilitas itu sebagai alasan kita untuk tidak bisa melaksanakan pembelajaran yang efektif dan efisien. nah dengan pelaksanaan pelatihan-pelatihan yang telah diberikan kepada guru, maka guru dituntut untuk kreatif dan inovatif untuk menutupi fasilitas yang tidak ada tersebut.
BalasHapusDalam proses belajar mengajar di sekolah, fasilitas atau sarana dan prasarana merupakan salah satu bagian yang paling penting, karena dapat membantu kelancaran dan kenyamanan dalam proses belajar di sekolah.Namun dengan kurangnya fasilitas atau sarana prasarana tidak akan menjadi penghalang dalam menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien.Fasilitas merupakan sarana pendukung dalam pembelajaran, apabila fasilitas kurang tersedia maka disinilah peran guru dalam menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien dengan keterbatasan sarana dan prasarana.
BalasHapusMisalnya pada materi praktikum,guru bisa menggunakan media virtual LAB sebagai pengganti praktikum karena tidak adanya alat dan bahan praktikum.
Keterbatasan fasilitas bukanlah menjadi penghambat dalam kegiatan pembelajaran yang efektif dan efesien. Seharusnya guru mampu berinovasi dalam menciptakan media-media pembelajaran yang dapat mendukung kegiatan pembelajaran. Misalnya bila disekolah tersebut tidak tersedia laboratorium, maka guru dpt menanyangkan virtual lab.
BalasHapusmenurut saya terbatasnya fasilitas bukan menjadi halangan untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien. pembelajaran yang efektif dan efisien dapat tercipta tergantung dari guru yang mengajar apabila guru mampu menciptakan inovasi-inovasi yang baru dalam mendukung pembelajaran. bagaimana dengan sekolah-sekolah didaerah terpencil apakah mereka mempunyai fasilitas yang layak nah untuk itu sebgai guru harus mampu memberikan inovasi dalam pembelajaran untuk tercapainya pembelajaran yang efektif dan efisien.
BalasHapusfasilitas bukanlah faktor satu-satunya penentu keberhasilan atau keefektifan dalam pembelajaran. sebagai guru seharusnya kita mengetahui apa kelemahan dari proses pembelajaran kita, dan bagaimana memberikan sistem instrusional yang tepat kepada siswa agar pembelajaran tetap berlangsung /efektif. sebagai contoh di sebuah sekolah A sangaT minim sekali dengan jangkawan internet, nah sedangkan di sekolah B internet itu adalah sebagi sumber/ bahan ajar yang paling sering mereka gunakan. nah disini bagaimana kita sebagi guru untuk menyikapi persoalan sekolah yang minimnya jaringan internet disana. apakah kita harus menyamakan sistem instruksi nya dengan sekolah A dengan sekolah B agar tercipta pemelajaran yang efektif dan efisien, tentu tidak demikian kita harus menyesuaikan instrusi yang kita berikan kepada siswa di sekolah A. seperti bisa kita ganti mencari sumber ke perpustakaan dll, sehingga sekolah A mampu menyesuaikan ketercapaian belajar dengan sekolah B meskipun membutuhkan waktu dan proses yang panajng.
BalasHapusmenurut saya seorang guru yang sudah profesional atau seorang guru yang kreatif masalh fasilitas tidak akan menjadi sebuah penghalang untuk membuat pembelajaran yang efektif dan efisien. contohnya saja apabila materi pembelajaran itu dituntut untuk praktikum misalnya saja materi identifikasi larutan asam atau basa, sedangkan di sekolah tidak mempunyai bahan dan alat yang lengkap maka guru bisa menyuruh siswanya mencari bahan yang berhubungan dengan materi yang ada disekitar kita. dan untuk mengidentifikasi sifat larutan bisa diganti dengan indikator alami misalnya bunga kembang sepatu atau hunyi. jadi keterbatasan fasilitas tidak akan ada berpengaruh yang besar terhadap kegiatan proses belajar mengajar.
BalasHapus