Rabu, 11 Oktober 2017

PENGANTAR SISTEM INSTRUKSIONAL


Proses instruksional atau pengajaran adalah kegiatan manusia yang bertujuan untuk membantu orang dalam belajar. Walaupun pembelajaran dapat terjadi tanpa adanya pengajaran, pengaruh dari pengajaran itu keseringan bermanfaat dan biasanya mudah untuk diamati. Ketika pengajaran dibentuk untuk mencapai sebuah tujuan pada pembelajaran, bisa saja tercapai atau bisa juga tidak tercapai.
Gagne dan Briggs (1978:19) mengemukakan pengertian  instruksional   adalah   cara   yang   dipakai   pengajar,   ahli   kurikulum, perancang bahan, dan lain-lain yang bertujuan untuk mengembangkan rencana yang terorganisasikan guna keperluan belajar, merumuskan sistem instruksional sebagai kombinasi yang unik dan pengaturan unsur-unsur dalam proses instruksional yang dirancang untuk suatu tujuan yang disepakati bersama, guna memecahkan masalah belajar. Dick & Carey  (1985) mendefinisikan ‘desain’ sebagai pola atau rancangan; sedangkan instruksional berarti pengajaran yang merupakan suatu kegiatan  tempat pembelajar mengalami perubahan perilaku.
Proses instruksional atau pengajaran secara tradisional telah melibatkan instruktur, pembelajar, dan  buku  teks.  Isi  yang  dipelajari terkandung dalam teks, dan merupakan tanggung jawab instruktur untuk “mengajarkan” isinya kepada para siswa. Pengajaran dapat berarti memasukkan isi teks ke dalam kepala siswa dengan sebuah cara sehingga mereka dapat mengingat kembali informasi ketika tes. Dengan model ini, cara memperbaiki pengajaran yakni dengan memperbaiki instrukturnya (yakni, mewajibkan instruktur untuk mempelajari lebih banyak  ilmu dan  lebih banyak metode untuk diteruskan kepada para siswa) .
Pandangan  yang lebih moderen tentang pengajaran yakni bahwa pengajaran merupakan proses sistematis yang setiap komponennya penting bagi pembelajaran yang sukses. Sudut pandang ini biasanya dirujuk sebagai sudut pandang system, dan para pendukung  pandangan ini biasanya menggunakan pendekatan system untuk mendesain pengajaran.

Konsep Desain Instruksional
1.   Pendekatan System
Kegiatan Instruksional dipandang sebagai suatu system. Istilah system merujuk pada benda, peristiwa, kejadian, atau cara yang terorganisir yang terdiri bagian-bagian yang lebih kecil dan seluruh bagian tersebut secara bersama-sama berfungsi untuk mencapai tujuan tertentu. Selanjutnya pendekatan system yaitu suatu suatu urutan pemecahan masalah dengan urutan langkah masalah dipahami terlebih dahulu, mempertimbangkan berbagai solusi alternative, dan memilih solusi terbaik. Demikian pula dengan Tunas mengemukakan pandangannya tentang pendekatan system sebagai suatu pendekatan pemecahan masalah yang dilakukan secara sistematis dan menyeluruh (sistemik). Dalam hal ini yang dimaksud dengan sistemik adalah suatu analisis dan evaluasi yang memperhatikan seluruh faktor yang berhubungan dengan masalah itu termasuk keterkaitan antar faktor yang bersangkutan.
Penggunaan pendekatan system dalam teknologi instruksional hingga kini berkembang terus. Selain komponen pengajar, peserta didik, fasilitas, kegiatan instruksional juga terdiri dari subsistem diantaranya adalah tujuan instruksional, tes, strategi  instruksional, bahan instruksional, dan evaluasi. Oleh karena kompleksnya yang terkait dalam kegiatan instruksional, maka untuk memecahkan masalah perlu menguji setiap komponen tersebut melalui analisis system.
2.   Teori Yang Mendasari Desain Instruksional

Sistem instruksional adalah semua materi pelajaran dan metode yang telah diuji dalam praktek yang dipersiapkan untuk mencapai tujuan dalam keadaan senyatanya (Baker; 1971, p:16). Sedangkan Briggs mengemukakan bahwa desain instruksional adalah keseluruhan proses analisis kebutuhan dan tujuan belajar serta pengembangan teknik mengajar dan materi pengajarannya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Termasuk di dalamnya adalah pengembangan paket pelajaran, kegiatan mengajar, uji coba, revisi, dan kegiatan mengevaluasi hasil belajar (Briggs, 1979, p. 20). Lebih lanjut dikatakan bahwa disain sistem instruksional ialah pendekatan secara sistematis dalam perencanaan dan pengembangan sarana serta alat untuk mencapai kebutuhan dan tujuan instruksional. Semua komponen sistem ini (tujuan, materi, media, alat, evaluasi) dalam hubungannya satu sama lain dipandang sebagai kesatuan yang teratur sistematis. Komponen-komponen tersebut terlebih dulu diuji coba efektifitasnya sebelum disebarluaskan penggunaannya.
Desain Instruksional adalah suatu proses sistematis, efektif, dan efisien dalam menciptakan system instruksional untuk memecahkan masalah belajar atau peningkatan kinerja peserta didik melalui serangkaian kegiatan pengidentifikasian masalah, pengembangan, dan pengevaluasian. Beberapa istilah juga berkaitan erat dengan desain instruksional antara lain learning, menurut Robert M. Gagne  bahwa belajar merupakan hasil, bukan proses.  Hasil tersebut bekenaan dengan perubahan pada kapabilitas manusia yang secara tetap terjadi sepanjang periode tertentu dan bukan karena kebetulan sebagai akibat dari proses perkembangan diri.
Hamrenus dalam Suparman menyatakan bahwa desain instruksional merupakan proses sistematik untuk memungkinkan tujuan umum dicapai melalui proses belajar yang efektif. Proses yang sistematik itu dimulai dengan tujuan umum.  Pendapat lain menyatakan bahwa tujuan akhir dari desain instruksional  adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Sedangkan Rothwel dan Kazamas mengemukan bahwa desain instruksional tidak sekadar menciptakan instrument atau alat tetapi terkait dengan konsep lebih luas tentang bagaimana menganalisa masalah kinerja manusia secara sistematik, pengidentifikasian akar penyebab masalah-masalah tersebut, pertimbangan berbagai solusi yang sesuai dengan akar permasalahan itu, dan pelaksanaan pemecahan masalah dengan cara-cara yang di rancang untuk meminimalisir akibat yang tidak diharapkan dari tindakan perbaikan.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas mengarah pada satu tujuan yang sama yakni mencari suatu solusi dari beberapa permasalah dalam rangka menciptakan satu tindakan perbaikan pembelajaran yang dilakukan secara sistematis, efektif, efisien yang diawali dari menganalisis tujuan pembelajaran dan di akhiri dengan evaluasi.

Model Pengembangan Desain Instruksional.
Ada banyak Model desain instruksional yang berkembang dalam dunia pendidikan dewasa ini, misalnya SAFE (System Approach For Education), Michigan State University Instructional Systems Development Model, Project MINERVA Instructional System Design, Teaching Research System, Banathy Instructional Development System, , Dick & Carey model, Kemp model , Three Phase Design Model, The 4CID Model, ARCS Model, dan banyak lagi model instruksional lainnya. Perkembangannya juga beragam sesuai dengan kondisi dan tujuan desain instruksional tersebut diperuntukkan, yang jelas bahwa setiap model dimaksudkan untuk menghasilkan suatu system instruksional yang efektif dan efisien dalam memfasilitasi pencapaian tujuan instruksional. Pada dasarnya model instruksional yang ditawarkan memiliki prosedur yang hampir sama antara satu dengan yang lain, atau bahkan mengkombinasikan dari berbagai model yang sudah ada untuk kemudian diaplikasikan kedalam lingkungan pembelajaran yang kita hadapi.
kegiatan pokok yang dilakukan dalam pengembangan desain pengajaran   meliputi hal sebagai berikut:
a)  Menentukan hasil belajar dalam arti prestasi siswa yang bisa diamati
b)  Mengidentifikasi karakteristik siswa yang akan belajar.
c)  Berdasarkan nomor a dan b tersebut, memilih dan menyelenggarakan kegiatan belajar dan mengajar bagi siswa.
d)  Menentukan media untuk kegiatan tersebut.
e)  Menentukan  situasi  dan  kondisi  dengan  cara  mengamati  siswa  yang telah dianggap cukup.
f)  Menentukan kriteria untuk menentukan seberapa prestasi siswa telah dianggap cukup.
g)  Memilih metode    yang    tepat    untuk    menilai    kemampuan     siswa untuk mendemonstrasikan tingkah laku seperti tersebut pada angka a.
h) Menentukan metode untuk memonitor respon siswa sewaktu berada dalam proses pengajaran dan sewaktu dievaluasi.
i)   Mengadakan perbaikan  yang  diperlukan  dalam  kegiatan  belajar-mengajar bila ternyata respon siswa tidak sesuai dengan hasil yang telah ditentukan.
Kesembilan langkah dasar tersebut menggambarkan prosedur yang digunakan untuk merancang pengajaran. Perangkat prosedur ini dinamakan rancangan sistem karena tersusun atas komponen-komponen yang saling berinteraksi, masing-masing memiliki masukan dan. keluarannya, dan secara bersama-sama membuahkan hasil yang ditetapkan. sebelumnya. Suatu sistem juga mengumpulkan keterangan tentang keampuhan suatu proses pembelajaran . sehingga produk akhirnya dapat diubah sampai  mencapai taraf mutu yang diinginkannya. Pada waktu materi pengajaran masih dikembangkan, data-data dikumpulkan dan materi direvisi selaras adanya data untuk menjadikannya seefektif dan seefisien mungkin.

Permasalahan :
Kita memahami bahwa suatu sistem terdiri atas sejumlah komponen atau unsur yang saling berkaitan dan masing-masing memiliki fungsi mencapai tujuan dari system tersebut. Pada konteks sistem instruksional, bagaimana jika salah satu komponen tidak tersedia misalnya fasilitas, apakah seorang pengajar masih dapat mengupayakan kegiatan pembelajaran yang efektif dan efisien?


Referensi :




9 komentar:

  1. Keterbatasan fasilitas tidak akan menghalangi guru dalam mengupayakan pembelajaran efektif dan efisien jika guru mampu melakukan inovasi dlm pembelajaran. Pemikiran kreatif dari guru dibutuhkan untuk mengatasi terbatasnya fasilitas. Misalnya di daerah terpencil yang tidak dialiri listrik dan bisa menggunakan LCD dpt diatasi dg kreativitas guru. Guru yg kreatif dan inovatif akan menciptakan proyektor tanpa listrik utk pembelajaran. Kekurangan/keterbatasan bukanlah penghalang namun dpt menjadi kesempatan besar dalam berinovasi.

    BalasHapus
  2. memang benar suatu sistem terdiri atas sejumlah komponen atau unsur yang saling berkaitan dan masing-masing memiliki fungsi mencapai tujuan dari system tersebut. namun keterbatasan fasilitas bukanlah halangan dalam menyampaikan pembelajaran hingga tercapai pembelajaran yang efektif dan efisien. gru harus di bekali kreativitas sehingga seminim apapun fasilitas yang ada,pembelajaran tetap ahrus berjalan sebagai mana mestinya. sebagai contoh,pada materi yang memerlukan prktek langsung/praktikum,namun di sekolah tidak tersedia alat dan bahan praktikum yang memdai,guru harus bisa menyiasati penyampaian materi tersebut menggunakan alat dan bahan yang ada di sekitar.

    BalasHapus
  3. Keterbatasan pada fasilitas memang menjadi salah satu penghambat dalam kegiatan pembelajaran. Namun, hal ini dapat ditanggulangi dengan melihat potensi lain yang bisa dimanfaatkan oleh guru sehingga dapat mewujudkan kegiatan pembelajaran yang efektif dan efisien sebagaimana mestinya. contohnya: Jika di suatu sekolah memiliki fasilitas labor MIPA yang tidak memadai, sedangkan pada matapelajaran kimia membutuhkan praktikum. Disatu sisi lain, disekolah memiliki fasilitas lab komputer yang memadai namun jarang digunakan. Guru dapat meminimalisir dampak yang terjadi dengan, mengupayakan terlebih dahulu praktikum tetap terlaksana dengan menggunakan alat dan bahan yang tersedia atau yang berasal dari kehidupan sehari-hari contohnya pada materi asam basa bisa menggunakan indikator alam. Kemudian, untuk praktikum yang tidak terlaksana seperti contohnya titrasi asam-basa, guru dapat menggunakan fasilitas komputer dengan menayangkan video-video contoh praktikum titrasi asam-basa, kemudian mengajak siswa melaksanakan praktikum titrasi asam-basa menggunakan lab. virtual. Sehingga pemahaman siswa tentang pokok bahasan dapat terpenuhi dan meminimalisir kesalahpahaman konsep jika tidak dilaksanakannya praktikum.

    BalasHapus
  4. jangan menjadikan fasilitas itu sebagai alasan kita untuk tidak bisa melaksanakan pembelajaran yang efektif dan efisien. nah dengan pelaksanaan pelatihan-pelatihan yang telah diberikan kepada guru, maka guru dituntut untuk kreatif dan inovatif untuk menutupi fasilitas yang tidak ada tersebut.

    BalasHapus
  5. Dalam proses belajar mengajar di sekolah, fasilitas atau sarana dan prasarana merupakan salah satu bagian yang paling penting, karena dapat membantu kelancaran dan kenyamanan dalam proses belajar di sekolah.Namun dengan kurangnya fasilitas atau sarana prasarana tidak akan menjadi penghalang dalam menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien.Fasilitas merupakan sarana pendukung dalam pembelajaran, apabila fasilitas kurang tersedia maka disinilah peran guru dalam menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien dengan keterbatasan sarana dan prasarana.
    Misalnya pada materi praktikum,guru bisa menggunakan media virtual LAB sebagai pengganti praktikum karena tidak adanya alat dan bahan praktikum.

    BalasHapus
  6. Keterbatasan fasilitas bukanlah menjadi penghambat dalam kegiatan pembelajaran yang efektif dan efesien. Seharusnya guru mampu berinovasi dalam menciptakan media-media pembelajaran yang dapat mendukung kegiatan pembelajaran. Misalnya bila disekolah tersebut tidak tersedia laboratorium, maka guru dpt menanyangkan virtual lab.

    BalasHapus
  7. menurut saya terbatasnya fasilitas bukan menjadi halangan untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan efisien. pembelajaran yang efektif dan efisien dapat tercipta tergantung dari guru yang mengajar apabila guru mampu menciptakan inovasi-inovasi yang baru dalam mendukung pembelajaran. bagaimana dengan sekolah-sekolah didaerah terpencil apakah mereka mempunyai fasilitas yang layak nah untuk itu sebgai guru harus mampu memberikan inovasi dalam pembelajaran untuk tercapainya pembelajaran yang efektif dan efisien.

    BalasHapus
  8. fasilitas bukanlah faktor satu-satunya penentu keberhasilan atau keefektifan dalam pembelajaran. sebagai guru seharusnya kita mengetahui apa kelemahan dari proses pembelajaran kita, dan bagaimana memberikan sistem instrusional yang tepat kepada siswa agar pembelajaran tetap berlangsung /efektif. sebagai contoh di sebuah sekolah A sangaT minim sekali dengan jangkawan internet, nah sedangkan di sekolah B internet itu adalah sebagi sumber/ bahan ajar yang paling sering mereka gunakan. nah disini bagaimana kita sebagi guru untuk menyikapi persoalan sekolah yang minimnya jaringan internet disana. apakah kita harus menyamakan sistem instruksi nya dengan sekolah A dengan sekolah B agar tercipta pemelajaran yang efektif dan efisien, tentu tidak demikian kita harus menyesuaikan instrusi yang kita berikan kepada siswa di sekolah A. seperti bisa kita ganti mencari sumber ke perpustakaan dll, sehingga sekolah A mampu menyesuaikan ketercapaian belajar dengan sekolah B meskipun membutuhkan waktu dan proses yang panajng.

    BalasHapus
  9. menurut saya seorang guru yang sudah profesional atau seorang guru yang kreatif masalh fasilitas tidak akan menjadi sebuah penghalang untuk membuat pembelajaran yang efektif dan efisien. contohnya saja apabila materi pembelajaran itu dituntut untuk praktikum misalnya saja materi identifikasi larutan asam atau basa, sedangkan di sekolah tidak mempunyai bahan dan alat yang lengkap maka guru bisa menyuruh siswanya mencari bahan yang berhubungan dengan materi yang ada disekitar kita. dan untuk mengidentifikasi sifat larutan bisa diganti dengan indikator alami misalnya bunga kembang sepatu atau hunyi. jadi keterbatasan fasilitas tidak akan ada berpengaruh yang besar terhadap kegiatan proses belajar mengajar.

    BalasHapus