Rabu, 18 Oktober 2017

PROSES DASAR DALAM PEMBELAJARAN DAN INSTRUKSIONAL

Pembelajaran menurut Gagne adalah seperangkat proses yang bersifat internal bagi setiap individu sebagai hasil transformasi rangsangan yang berasal dari persitiwa eksternal di lingkungan individu yang bersangkutan (kondisi).  Agar kondisi eksternal itu lebih bermakna sebaiknya diorganisasikan dalam urutan persitiwa pembelajaran (metode atau perlakuan).  Selain itu, dalam usaha mengatur kondisi eksternal diperlukan berbagai rangsangan yang dapat diterima oleh panca indra, yang dikenal dengan nama media dan sumber belajar.
Pembelajaran menurut Gagne hendaknya mampu menimbulkan persitiwa belajar dan proses kognitif.  Peristiwa belajar (instructional events) adalah peristiwa dengan urutan sebagai berikut : menimbulkan minat dan memusatkan perhatian agar peserta didik siap menerima pelajaran, menyampaikan tujuan pembelajaran agar peserta didik tahu apa yang diharapkan dalam pembelajaran itu, mengingat kembali konsep/prinsip yang telah dipelajari sebelumnya yang merupakan prasyarat, menyampaikan materi pembelajaran, memberikan bimbingan atau pedoman untuk belajar, membangkitkan timbulnya unjuk kerja peserta didik, memberikan umpan balik tentang kebenaran pelaksanaan tugas, mengukur/evaluasi belajar, dan memperkuat referensi dan transfer belajar. 
Suciati dan Irawan menjelaskan sembilan peristiwa pembelajaran Gagne dalam bentuk bagan sebagai berikut : 
No
Peristiwa Pembelajaran
Penjelasan
1
Menimbulkan minat dan memusatkan perhatian
Peserta didik tidak selalu siap dan fokus pada awal pembelajaran.  Guru perlu menimbulkan minat dan perhatian anak didik melalui penyampaian sesuatu yang baru, aneh, kontradiktif atau kompleks
2
Menyampaikan tujuan pembelajaran
Hal ini dilakukan agar peserta didik tidak menebak-nebak apa yang diharapkan dari dirinya oleh guru.  Mereka perlu mengetahui unjuk kerja apa yang akan digunakan sebagai indikator penguasaan pengetahuan atau keterampilan
3
Mengingat kembali konsep/prinsip yang telah dipelajari yang merupakan prasyarat
Banyak pengetahuan baru yang merupakan kombinasi dari konsep, prinsip atau informasi yang sebelumnya telah dipelajari, untuk memudahkan mempelajari materi baru
4
Menyampaikan materi pembelajaran
Dalam menjelaskan materi pembelajaran, menggunakan contoh, penekanan untuk menunjukkan perbedaan atau bagian penting, baik secara verbal maupun menggunakanfitur tertentu (warna, huruf miring, garisbawahi, dsb)
5
Memberikan bimbingan atau pedoman untuk belajar
Biimbingan diberikan melalui pertanyaan-pertanyaan yang membiimbing proses/alur pikir peserta didik.  Perlu diperhatikan agar bimbingan tidak diberikan secara berlebihan
6
Memperoleh unjuk kerja peserta didik
Peserta didik diminta untuk menunjukkan apa yang telah dipelajari, baik untuk myakinkan guru maupun dirinya sendiri
7
Memberikan umpan balik tentang kebenaran pelaksanaan tugas
Umpan balik perlu diberikan untuk membantu peserta didik mengetahu sejauh mana kebenaran atau unjuk ekrja yang dihasilkan
8
Mengukur/mengevaluasi hasil belajar
Pengukuran hasil belajar dapat dilakukan melalui tes maupun tugas.  Perlu diperhatikan validitas dan reliabilitas tes yang diberikan dari hasil observasi guru
9
Memperkuat referensi dan transfer belajar
Referensi dapat ditingkatkan melalui latihan berkali-kali menggunakan prinsip yang dipelajari dalam konteks yang berbeda.  Mondisi/situasi pada saat transfer belajar diharapkan terjadi, harus berbeda.  Memecahkan masalah dalam suasana di kelas akan sangat berbeda dengan susasana riil yang mengandung resiko
Menurut Gagne, belajar memberi kontribusi terhadap adaptasi yang diperlukan untuk mengembangkan proses yang logis, sehingga perkembangan perilaku (behaviour) adalah hasil dari efek belajar yang kumulatif serta tidak dapat didefinisikan dengan mudah karena belajar bersifat kompleks.
2.       Kemampuan Belajar menurut Robert M. Gagne
Gagne mengkajji masalah belajar yang kompleks dan menyimpulkan bahwa informasi dasar atau keterampilan sederhana yang dipelajari mempengaruhi terjadinya belajar yang lebih rumit.  Menurut Gagne ada lima kategori kemampuan belajar, yaitu :
a.     keterampilan intelektual atau kemampuan seseorang untuk berinteraksi dengan lingkungannya masing-masing dengan penggunaan lambang.  Kemampuan ini meliputi:
1)  asosiasi dan mata rantai (menghubungkan suatu lambang dengan suatu fakta)
2)  diskriminasi (membedakan suatu lambang dengan lambang lain)
3)  konsep (mendefinisikan suatu pengertian atau prosedur)
4)  kaidah (mengkombinasikan beberapa konsep dengan suatu cara)
5)  kaidah lebih tinggi (menggunakan beberapa kaidah dalam memecahkan suatu masalah)
b.     strategi/siasat kognitif yaitu keterampilan peserta didik untuk mengatur proses internal perhatian, belajar, ingatan dan pikiran
c.     informasi verbal, yaitu kemampuan untuk mengenal dan menyimpan nama atau istilah, fakta, dan serangkaian fakta yang merupakan kumpulan pengetahuan
d.     keterampilan motorik, yaitu keterampilan mengorganisasikan gerakan sehingga terbentuk keutuhan gerakan yang mulus, teratur, dan tepat waktu
e.     sikap, yaitu keadaan dalam diri peserta didik yang mempengaruhi (bertindak sebagai moderator atas pilihan untuk bertindak).  Sikap ini meliputi komponen afektif, kognitif dan psikomotorik.
Gagne juga menyatakan bahwa untuk dapat memperoleh dan menguasai kelima kategori kemampuan belajar tersebut di atas, ada sejumlah kondisi yang perlu diperhatikan oleh pendidik.  Ada kondisi belajar internal yang timbul dari memori peserta didik sebagai hasil belajar sebelumnya, dan ada sejumlah kondisi eksternal ditinjau dari peserta didik.  Kondisi eksternal ini bila diatur dan dikelola dengan baik merupakan usaha untuk membelajarkan, misalnya pemanfaatan atau penggunaan berbagai media dan sumber belajar.
Berdasarkan kondisi internal dan eksternal tersebut, Gagne menjelaskan bagaimana proses belajar itu terjadi.  Model proses belajar yang dikembangkan oleh Gagne didasarkan  pada teori pemrosesan informasi , yaitu sebagai berikut:
a.    Rangsangan yang diterima panca indera akan disalurkan ke pusat syaraf dan dikenal sebagai informasi.
b.    Informasi dipilih secara selektif, ada yang dibuang, ada yang disimpan dalam memori jangka pendek, dan ada yang disimpan dalam memori jangka panjang.
c.    Memori-memori ini tercampur dengan memori yang telah ada sebelumnya, dan dapat diungkap kembali setelah dilakukan pengolahan.
Didasarkan atas teori pemrosesan infromasi tersebut, Gagne mengemukakan bahwa suatu tindakan belajar meliputi delapan kejadian-kejadian eksternal yang dapat distrukturkan oleh siswa dan guru, dan setiap fase ini dipasangkan dengan suatu proses internal yang terjadi dalam pikiran siswa. 
       3.       Tipe-tipe Belajar menurut Robert M. Gagne
Gagne menyusun tipe-tipe belajar berdasarkan hasil belajar yang diperoleh dan bukan proses belajar yang dilalui peserta didik untuk mencapai hasil itu.  Selain itu, Gagne mencoba menempatkan delapan tipe belajar itu berada dalam suatu urutan hirakis, yaitu tipe belajar yang satu menjadi dasar atau landasan tipe belajar berikutnya.  Dengan demikian, peserta didik yang tidak menguasai tipe belajar yang terdahulu,  akan mengalami kesulitan dalam mengusai tipe belajar selanjutnya.  Selanjutnya Gagne menambahkan bahwa empat  tipe belajar pertama (nomor 1 s/d 4) kurang relevan untuk belajar di sekolah, sedangkan empat tipe kedua (nomor 5 s/d 8) lebih menonjolkan pada belajar kognitif yang memang ditonjolkan di sekolah. Untuk lebih jelasnya, kedelapan tipe belajar ini disajikan dalam tabel berikut: 
No
Tipe Belajar
Hasil Belajar
Contoh Prestasi
1
Belajar sinyal (signal learning)
Memberikan reaksi pada perangsang (S-R)
Guru sejarah yang galak dikuti oleh siswa – Siswa tidak suka sejarah
2
Belajar stimulus respon(stimulus response learning)
Memberikan reaksipada perangsang (S-R)
Guru memuji tindakan siswa – Siswa cenderung mengulang
3
Belajar merangkai tingkah laku (behaviour chaining learning)
Menghubungkan gerakan yang satu dengan yang lain
Membuka pintu mobil – duduk – kotrol persneling – menghidupkan mesin – menekan kopling – pesang persneling 1 – menginjak gas
4
Belajar asosiasi verbal (verbal chaining learning)
Memberikan reaksi verbal pada stimulus/perangsang
Nomor teleponmu? (021) 617812
5
Belajar diskriminasi (discrimination learning)
Memberikan reaksi yang berbeda pada stimulus-stimulus yang mempunyai kesamaan
Menyebutkan merek mobil-mobil yang lewat di jalan

6
Belajar konsep (concept learning)
Menempatkan obyek-obyek dalam kelompok tertentu
Manusia, ikan paus, kera, anjing, adalah makhluk menyusui
7
Belajar kaidah (rule learning)
Menghubungkan beberapa konsep
Benda bulat berguling pada alas yang miring
8
Belajar memecahkan masalah (problem solving)
Mengembangkan beberapa kaidah menjadi prinsip pemecahan masalah
Menemukan cara memperoleh energi dari tenaga atom, tanpa mencemarkan lingkungan hidup
Dengan demikian, ada beberapa prinsip pembelajaran dari teori gagne, yaitu antara lain berkaitan dengan:
a.    perhatian dan motivasi belajar peserta didik,
b.    keaktifan belajar dan keterlibatan langsung/pengalaman dalam belajar,
c.    pengulangan belajar,
d.    tantangan semangat belajar,
e.    pemberian umpan balik dan penguatan belajar,
f.     adanya perbedaan individual dalam perilaku belajar.
Selain itu Gagne juga mementingkan akan adanya penciptaan kondisi belajar, termasuk lingkungan belajar, khususnya kondisi yang berbasis media, yaitu meliputi jenis penyajian yang disampaikan kepada peserta didik dengan penjadwalan, pengurutan dan pengorganisasian.
TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Segala perbuatan manusia mengandung tujuan, tak terkecuali dalam dunia pendidikan. Dalam sistem pendidikan secara nasional, tujuan umum pendidikan secara eksplisit tertera dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Seluruh aparatur pemerintah termasuk petugas-petugas pendidikan, harus terlebih dahulu memahami makna dari rumusan tersebut dan menterjemahkannya dalam bentuk rumusan tujuan yang sesuai dengan tingkat dan jenis pendidikan yang diselenggarakan pada lembaga tersebut. Dari tujuan umum pendidikan ini kemudian dijabarkan ke dalam tiga bentuk tujuan; yaitu tujuan institusional, tujuan kurikuler,dan tujuan instruksional.
Tujuan institusional merupakan tujuan yang dirumuskan dari masing-masing institusi atau lembaga pendidikan, seperti tujuan Sekolah Dasar, tujuan Sekolah Menengah Pertama, tujuan Madrasah Aliyah, dan lain sebagainya yang masing-masing dicanangkan sesuai dengan harapan lulusannya. Sedangkan tujuan kurikuler merupakan tujuan yang dirumuskan untuk masing-masing mata pelajaran. Misalnya tujuan pelajaran Pendidikan Agama, Matematika, dan seterusnya. Masing-masing mata pelajaran memiliki tujuan yang berbeda sesuai karakteristik mata pelajaran tersebut serta tingkat institusi yang melaksanakannya.
Sementara tujuan instruksional merupakan tujuan yang lahir akibat terjadinya proses mempelajari setiap materi pelajaran yang dilakukan dalam situasi belajar-mengajar. Tujuan instruksional selanjutnya dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus. Perbedaan antara kedua macam tujuan ini didasarkan atas luasnya tujuan yang akan dicapai.
Merumuskan tujuan instruksional sangatlah penting, bahkan ini dapat dipandang sebagai sebuah kebutuhan dan hak peserta didik yang harus dilaksanakan oleh setiap pendidik. Selain untuk menjelaskan arah belajar peserta didik, manfaat lain yang bisa diperoleh dari membuat tujuan instruksional ini adalah:
·         guru memiliki arah untuk memilih bahan pelajaran dan prosedur mengajar;
·         guru mengetahui  batas-batas tugas dan wewenangnya dalam mengajarkan suatu bahan;
·         guru memiliki patokan dalam mengadakan penilaian kemajuan belajar peserta didik;
·         guru sebagai pelaksana dan pemegang kebijakan pembelajaran mempunyai kriteria untuk mengevaluasi kualitas maupun efisiensi pengajaran;
·         dan lain sebagainya.

Pengertian Tujuan Instruksional Umum
Kegiatan belajar-mengajar atau kegiatan pengajaran sering juga disebut dengan istilah Instruksional. Dari istilah “instruksional” ini kemudian muncul istilah “tujuan instruksional”. Soemarsono dalam bukunya “Tujuan Instruksional”, – sebagaimana yang dikutip oleh Suharsimi Arikunto – mendefenisikan tujuan instruksional sebagai tujuan yang menggambarkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan dan sikap yang harus dimiliki oleh siswa sebagai akibat dari hasil pengajaran yang dinyatakan dalam bentuk tingkah laku (behavior) yang dapat diamati dan diukur. Selanjutnya tujuan instruksional ini dibagi menjadi dua macam, yaitu Tujuan Instruksional Umum (TIU), dan Tujuan Instruksional Khusus (TIK).
Dalam bahasa Inggris terdapat sejumlah istilah yang menyatakan tujuan yang bersifat umum, seperti “aim”, “general purpose”, “goal”, dan sebagainya. Sedangkan dalam Prosedur Pengembangann Sistem Instruksional (PPSI) biasa disebut dengan Tujuan Instruksional Umum atau disingkat TIU. Adapun yang dimaksud dengan Tujuan Instruksional Umum adalah suatu kegiatan mengidentifikasi kebutuhan instruksional untuk memperoleh jenis pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang tidak pernah dipelajari atau belum dilakukan dengan baik oleh peserta didik, (yang mana) jenis pengetahuan, keterampilan dan sikap tersebut masih bersifat umum atau garis besar. Dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa Tujuan Instruksional Umum hanya menggariskan hasil-hasil yang bersifat umum pada kegiatan belajar dari setiap mata pelajaran yang harus dicapai oleh setiap peserta didik.
Jika kita berbicara tentang tujuan umum, biasanya sering terjebak ke dalam kalimat indah dan muluk kedengarannya, tetapi akan menemui kesukaran bila hendak diwujudkan karena menimbulkan tafsiran yang aneka ragam menurut pandangan masing-masing. Misalnya tujuan: “menjadi manusia yang baik”, “yang bertanggungjawab”, “bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa”, “yang mengabdi kepada masyarakat”, dan sebagainya. Tujuan yang umum seperti itu sangat kabur dan tidak bisa diukur tingkat keberhasilannya, bahkan berpotensi melahirkan macam-macam tafsiran. Kita tidak tahu dengan jelas apa yang dimaksud dengan “baik”, “bertanggungjawab” atau “mengabdi kepada masyarakat”. Oleh sebab itu TIU harus dianalisis sebagai bersifat umum, dan karena itu tidak memberi pegangan yang mantap untuk menentukan bahan, strategi penyajian, maupun penilaian. Untuk itu, Tujuan Instruksional Umum harus dijabarkan secara khusus ke dalam Tujuan Instruksional Khusus.
Sumber :

permasalahan :
Dari kelima kategori kemampuan belajar menurut gagne, salah satunya yaitu sikap. Dalam hal ini dijelaskan bahwa sikap adalah keadaan dalam diri peserta didik yang mempengaruhi (bertindak sebagai moderator atas pilihan untuk bertindak). 
Pertanyaan : Bagaimanakah cara kita membelajarkan siswa yang memiliki sikap tak acuh dan tidak mempunyai motivasi dalam belajar yang disebabkan oleh masalah internal siswa tersebut ? apakah upaya yang harus kita lakukan agar siswa tersebut termotivasi dalam belajar.


12 komentar:

  1. terkait dengan pembelajaran di kelas yaitu siswa yang memiliki sikap tak acuh dan tidak mempunyai motivasi dalam belajar yang disebabkan oleh masalah internal siswa tersebut, maka guru harus kreatif untuk menciptakan lingkungan belajar yang menantang rasa ingin tahu siswa, membangkitkan gairah siswa untuk belajar, sekaligus menyediakan pembelajaran yang membuat siswa merasa butuh untuk belajar.Jika guru mengajar hanya menyampaikan pelajaran (berceramah, misalnya), maka wajar jika siswa tidak tertarik dan tidak merasa membutuhkan ilmu yang diajarkan oleh guru. Akibatnya, siswa tidak mengikuti pembelajaran secara baik.

    BalasHapus
  2. Dalam menghadapi siswa yang memiliki minat belajar yang rendah contohnya ditunjukkan dengan sikapnya yang tidak acuh dan tidak termotivasi dalam belajar, kita sebagai pendidik/ahli pendidikan bisa menyiasatinya dengan menggunakan strategi2 pembelajaran tertentu yang sesuai dengan kondisi siswa contohnya menerapkan pembelajaran dengan model TGT (Teams Games Tournaments) sehingga anak bisa bersemangat dalam belajar karena pola pembelajarannya dalam bentuk belajar sambil bermain/turnamen atau model pembelajaran lainnya yang kira2 bisa membangkitkan motivasi siswa dalam belajar. Selain menggunakan strategi atau pendekatan yang tepat, kita juga bisa mengintegrasikan media-media pembelajaran yang menarik untuk menarik perhatian dan memotivasi anak, seperti penggunaan video pembelajaran, gambar, dan animasi yang dirancang sedemikian rupa sehingga materi/ilmu yang ingin kita sampaikan, tersampaikan dengan baik, namun tidak membosankan.Perlu dipertimbangkan juga jenis karakteristik pola belajar anak berdasarkan umurnya, misalnya anak dengan usia dini cenderung pola belajarnya suka jika sambil bermain dan bernyanyi, begitu pula untuk anak usia SMA cenderung belajar dengan pola pendekatan berbasis pada tren seperti tren teknologi ssosial media, bisa kita manfaatkan sebagai sarana belajar.

    BalasHapus
  3. Menurut saya, agar dapat menumbuhkan motivasi dalama belajar, guru harus bisa membuat pemebelajaran itu menarik, dengan bwgitu guru dituntut harus kreatif dan mampu berinovasi. Guru menggunakan media pemebelajaran yang sesuai dengan materi. Guru juga dapat melakukan inovasi di metode dalam mengajar, sehingga dapat menumbuhkan motivasi dalam diri siswa.

    BalasHapus
  4. sikap acuh tak acuh dan tidak termotivasi belaajr pada anak biasanya mempunyai faktor tersediri. misalnya anak menjadi acuh dan tidak termoticasi dikarenakan anak yang tidak menyukai dan tidak dapat memahami pelajaran. atau anak menjadi acuh dan tidak termotivasi di karekan kita sebagai guru/pendidikan yang kurang pandai dalam menyampaikan materi. dan masalah tersebut sebeanrnya bisa di atasi. kita sebagai guru/pendidik harus memiliki skill dalam mengelola kelas. kita harus terlebih dulu memahami faktor penyebab anak bersikap acuh dan tidak termotivasi. jika penyebabnya seperti yang telah di sebutkan,artinya guru harus bisa menciptakan suasana belajar yang dapat menarik perhatian bukan pembelajaran monoton yang dapat membuat siswa bosan. seperti dalam di lakukan diskusi, penanyangan video-video terkait pembelajaran,atau praktikum pada materi-materi tertentu

    BalasHapus
  5. Cara kita membelajarkan siswa yang memiliki sikap tak acuh dan tidak mempunyai motivasi dalam belajar yang disebabkan oleh masalah internal siswa tersebut adalah dengan menciptakan suasana belajar yang nyaman, kondusif. buat siswa tersebut termotivasi dengan apa yang kita ajarkan sehingga menimbulkan rasa ingin tahu siswa tersebut. Selain itu untuk siswa yang sangat sulit dalam belajar kita bisa melakukan bimbingan belajar kepada siswa tersebut.

    BalasHapus
  6. Langkah awal yang dapat dilakukan untuk menghadapi siswa yang acuh dan tidak mempunyai motivasi untuk belajar salah satu cara nya adalah berhenti menjelaskan pelajaran terlebih dahulu dan memberikan sesuatu yang menantang dan siswa merasa tertarik untuk mengikuti pelajaran hingga pada akhirnya siswa yang cuek tadi menunjukkan perhatiannya. Sering terjadi, ketika sedang mengajar, guru kurang memperhatikan bagaimana keseluruhan siswa di kelas, apakah mereka semua benar-benar memperhatikan guru yang sedang mengajar.Selain itu guru juga harus menciptakan lsuasana belajar yang kondusif dan memiliki pengetahuan bagaimana merancang pembelajaran supaya dapat menarik perhatian siswa dan siswa merasa tertantang dan semangat untuk mengikuti pelajaran.

    BalasHapus
  7. Menurut saya, sebaiknya kita memastikan anak tersebut mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Kita bisa melibatkan siswa-siswa yang demikian dalam pembelajaran dan mengajarkan dengan sedikit intensif. Misalnya jika ada siswa yang demikian, guru bisa melibatkan siswa tersebut, guru bisa memintanya untuk mengerjakan soal ke depan. Jika ternyata dia bisa mengerjakannya berarti tidak perlu kita khawatir tentang masalah internalnya. Jika ternyata dia kesulitan, kita bisa bantu mengarahkan agar siswa bisa mengerjakan soal tersebut. Jika kondisinya seperti ini, kita bisa memintanya bercerita setelah jam pelajaran selesai dan memberikan masukan kepadanya. Kita bisa juga menyarankannya untuk sharing dengan guru BP/BK.

    BalasHapus
  8. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  9. Banyak faktor yang menjadikan siswa bersikap tak acuh dan tidak mempunyai motivasi dalam belajar, salah satu contohnya adalah adanya masalah internal siswa tersebut sehingga menjadikannya tidak tertarik pada guru yang akan mengakibatkan tidak tertariknya ia pada mata pelajaran yang diajarkan. Untuk menghadapinya, guru perlu mengetahui keadaan siswa tersebut dengan bertanya apa yang terjadi padanya. Setelah itu, guru dapat melakukan bimbingan kepada siswa tersebut, lebih baik lagi jika dilakukan bersama dengan orangtuanya. Apabila sudah berangsur membaik, hal selanjutnya yang dapat dilakukan adalah mulai menumbuhkan kembali motivasi belajarnya. Upaya yang dapat dilakukan misalnya mengenalkan siswa pada kemampuan yang ada pada dirinya sendiri, membantu siswa merumuskan tujuan belajarnya, mengenalkan siswa dengan hal-hal baru, membuat variasi kegiatan belajar mengajar agar siswa tidak bosan, dan memberi pujian yang wajar di setiap keberhasilan siswa.

    BalasHapus
  10. Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu. Faktor-faktor internal ini misalnya meliputi faktor fisiologis dan psikologis. Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu, misalnya seperti kesehatan jasmani siswa dan panca indranya. faktor internal kedua adalah psikologis siswa memengaruhi proses belajar adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap, dan bakat. sikap acuh tak acuh dan motivasi yang kurang berkaitan dengan kondisi internal, yaitu psikologi siswa. maka yang dapat kita lakukan sebagai guru adalah meningkatkan motivasi belajar dan mencari penyebab siswa acuh tak acuh dalam belajar. maka disinilah peran guru yang bukan hanya sebagai pengajar namun juga pendidik.

    BalasHapus
  11. saya sepakat dengan pendapat kak sintia diatas bahwasanya siswa yang memiliki sikap tak acuh dan tidak mempunyai motivasi dalam belajar yang disebabkan oleh masalah internal siswa tersebut, maka guru harus kreatif untuk menciptakan lingkungan belajar yang menantang rasa ingin tahu siswa, membangkitkan gairah siswa untuk belajar, sekaligus menyediakan pembelajaran yang membuat siswa merasa butuh untuk belajar.dan biasa juga guru harus berusaha untuk mendekatkan dirinya kepada siswa tersebut cari tau apa akar penyebab masalahnya, dan guru harus bisa menjadi teman bagi muridnya, dari situlah murid sudah merasa dekat dengan guru maka murid tersebut akan termotivasi untuk belajar.

    BalasHapus
  12. Upaya yg harus dilakukan guru untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dg melakukan pendekatan pedagogis dan memahmi kondisi siswanya. Guru hrs mampu membuat pembelajaran yg menarik dan menyenangkan akan siswa termotivasi belajar. Ada ruang dimana siswa nyaman belajar dg guru nya.

    BalasHapus